Cerita dari Ummu Syifa

October 9, 2008

Pengasuh Syifa Pergi Tanpa Pesan

Filed under: Syifa - nurv3 @ 4:28 pm

Lebaran di Kutawinangun (rumah eyang putri Syifa) meninggalkan kesan menyenangkan sekaligus kecewa dan penasaran. Dua kesan berbeda pada dua sebab yang berbeda pula. Menyenangkan karena kami sekeluarga bisa berlebaran bersama meski tanpa eyang kakung (semoga beliau mendapat tempat yang indah di sisi-Nya, amin). Kecewa dan penasaran karena pengasuh Syifa pergi tanpa pesan.

Lebaran ini adalah lebaran ke dua bagi Syifa dan dua kali pula Syifa ikut ke tanah lapang untuk menunaikan sholat ‘aidil fithri. Ketupat, opor, kue-kue, dan es buah buatan yangti telah siap tersaji pada keesokan hari. Hmm… lezat… Selesai sholat kami bersilaturahim ke rumah tetangga dekat. Satu pekan kami mudik di sana, kemudian giliran di rumah mbah Syifa di Imogiri.

Kaget dan kecewa. Itu kesan lain yang kami rasakan ketika hendak pulang. Sebelum pulang kami menjemput pengasuh Syifa yang seminggu lalu kami antar mudik, pulang ke rumah yang kebetulan masih satu desa dengan rumah yangti. Pengasuh Syifa memutuskan untuk tidak kembali ke rumah. Ada apa gerangan? Pertanyaan kami hanya terlontar begitu saja, tanpa jawab yang pasti. Pernyataan untuk tidak kembali lagi keluar bukan dari mulut pengasuh Syifa sendiri. Saat itu entah di mana dia. Hanya sang ibu yang menemui kami. Beliau bilang bahwa mbak Neni (nama pengasuh Syifa) ingin istirahat sebentar. Ya, hanya itu saja.

Kami pulang dengan rasa kecewa yang teramat dalam dan juga penasaran yang tiada terkira. Mobil melaju, dan hati kami masih dipenuhi berbagai prasangka yang membuat hati semakin gelisah. Bukan karena pengasuh yang pergi tanpa pesan, tapi karena Syifa. Ya, siapa yang akan menggantikan mbak Neni untuk menjaga Syifa sementara ummi kuliah? Padahal Syifa sulit untuk bisa akrab dengan orang lain dalam waktu singkat. Kalau hanya sekedar menyapa khas bocah, Syifa sangat bisa. Tapi untuk sejam atau dua jam bersama orang baru? Syifa ngga mungkin bisa. Syifa cuma bisa “bertahan” lama jika bersama ummi atau ayahnya.

Masih diliputi penasaran, kami berdo’a semoga Allah mengganti yang pergi dengan yang lebih baik.

September 25, 2008

Bohong Pada Anak Sendiri

Filed under: Syifa - nurv3 @ 8:06 am

Semua orang pasti setuju dengan kalimat “Bohong itu dosa.” Tapi bila berbohong agar si kecil doyan makan, dosa tidak?

Pagi tadi Syifa makan dengan lahap. Seperti biasa, dan Syifa pun hafal, bila Ummi membawa selendang, itu artinya Syifa mau diajak beli bubur di warung sebelah, kemudian disuapin sambil melihat pemandangan di luar. Pagi itu pun demikian.

Syifa makan bubur lauk telor dengan lahap, lalu minum susu. Di depan rumah sudah menunggu kawan mainnya, Bagas. Si ibu menyuapi Bagas dengan nasi tim. Usia Bagas dua bulan lebih muda dari Syifa. Akhir-akhir ini Bagas tampaknya susah makan. Kira-kira setelah Bagas sakit muntaber beberapa waktu lalu.

Sambil duduk di bangku sepeda roda tiga dengan diikat bagian perutnya ke belakang agar tidak jatuh, Bagas menikmati makanannya. Namun baru beberapa suap saja, Bagas menolak makanannya. Lalu si ibu memberi Bagas minum menggunakan sendok. Setelah itu Bagas mau makan lagi. Sebentar kemudian, ia menolak suapan makanannya lagi. Si ibu lalu bilang “mimi mimi mimi”, katanya berbohong, karena yang disuapkan ke mulut Bagas bukan minuman, tapi sesendok nasi tim. Dengan begitu, Bagas membuka mulutnya. Namun sekian kali dibohongi, Bagas hafal juga, lalu tetap tidak mau menerima suapan makanannya. Barulah si ibu bilang, “Mimi tenan saiki…” (minum beneran sekarang) sambil memberikan air minum menggunakan sendok. Bagas pun minum. Si ibu bilang, “Wah wis ra iso diapusi.” (wah sudah tidak bisa dibohongi)

Kasihan si Bagas, dibohongi demi sesuap nasi.

June 28, 2008

Bait Tentang Syifa

Filed under: Syifa - nurv3 @ 6:26 am

Syifa Sayang Sekarang Syifa telah bertambah dewasa. Ia bisa menyanyi dengan lagunya sendiri, bisa bercerita dengan bahasanya sendiri. Bahasa yang bagi orang dewasa sulit dipahami. Ia bergerak dengan caranya sendiri, memandang sesuatu dengan penuh konsentrasi. Ia belajar mengenal sesuatu lewat inderanya. Ia melihat, ia memegang, dan memainkan segala yang diamatinya dengan penuh rasa ingin tahu.

Syifa yang lucu, selalu tersenyum begitu memandang wajah-wajah yang dikenalnya. Ia tidak takut bersaing dengan teman sebayanya. Ia selalu belajar, dari waktu ke waktu. Belajar mengenal bentuk, belajar mengenal rasa, dan juga irama. Kadang kepala dan badannya bergoyang ketika mendengar musik melantun. Atau diam seribu bahasa ketika adzan berkumandang. Atau menyimak dengan baik ketika Ayah membaca ayat suci.

Syifa sayang, semoga kelak engkau menjadi penyejuk hati. Menjadi wanita cerdas dan mencerdaskan umat. Menjadi kebanggan bagi Ayah dan Umi.

March 3, 2008

Sakazakii yang Menghebohkan

Filed under: Syifa - nurv3 @ 2:36 am

milk bottleMenyusui ASI memang yang terbaik. Allah sudah memberikan keistimewaan kepada para ibu untuk dapat menyusui bayinya. Memperoleh ASI adalah hak bayi dan memberikannya merupakan kewajiban para ibu. Namun tidak semua ibu sadar akan hal ini. Mereka bahkan ada yang rela meninggalkan bayinya dan berlama-lama di kantor (bekerja) tanpa menyusui bayi. Mereka menyerahkan tugasnya kepada baby sitter. Alhasil bayi tidak menyusu ASI, namun diganti dengan susu formula. Padahal ASi jauh lebih baik daripada susu formula.

ASI, dari segi komposisi lebih lengkap dibandingkan dengan susu formula. Ia juga mengandung antibodi yang membuat bayi tidak mudah sakit. Selain itu, mudah penyajiannya, ngga perlu repot-repot membuat, mengocok, memanaskan, dsb, tinggal minum saja. Ia murah dan mudah didapat. Bahkan penelitian baru-baru ini meneguhkan bahwa ASI memang lebih baik dari susu formula. Penelitian yang menghebohkan baru-baru ini, mengatakan bahwa susu formula tercemar bakteri. Bakteri berbahaya yang merisaukan banyak orang tersebut bernama E. Sakazakii.

E Sakazakii, bakteri yang ditemukan pertama kali di Jepang ini telah diketahui dapat mencemari susu formula. Hal ini didasarkan pada penelitian Dr. Sri Estuningsih dari Institut Pertanian Bogor. Enterobacter sakazakii, begitu nama lengkap bakteri ini, dapat mencemari susu formula dan tinggal di usus bayi. Kabar terbaru bahwa bakteri ini dapat menyerang otak dan menyebabkan meningitis, suatu penyakit radang selaput otak. Salah satu korban yang telah melapor adalah Yanwarinson, 36 tahun, warga Kompleks Polri Ampera Raya, Jakarta Selatan. Ia melaporkan putrinya, Nadine Manuela yang telah tercemar bakteri ini. Ia menuturkan bahwa di usia empat bulan, putrinya ini sering sekali diare dengan keadaan feses yang tidak biasa. Warnanya hijau kehitaman dengan bau menyengat. Setelah beberapa kali periksa dan berganti-ganti dokter, ia baru tahu bahwa tubuh putrinya telah tercemar bakteri sakazakii. Sekarang di usia 16 bulan, pencernaan putrinya itu masih sangat sensitif.

Menanggapi hal ini, BPOM belum akan mengumumkan sesuatu yang belum pasti. Seperti ditulis pada situs tempo, Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Pangan BPOM Tien Gartini menyatakan BPOM secara rutin melakukan pengawasan terhadap produk-produk makanan. “Tapi kalau hasilnya negatif, untuk apa diumumkan?”.

Sakazakii memang berbahaya, namun para ibu tidak perlu terlalu risau akan hal ini. Meski berbahaya, bakteri ini akan mati pada suhu tinggi, yaitu di atas 60 derajat Celcius. Jadi bagi mereka yang memang ada halangan yang menyebabkan bayinya harus minum susu formula, tidak perlu khawatir akan tercemar bakteri ini, selama mengikuti petunjuk yang benar dalam penyajiannya.

Untuk mencegah kontaminasi bakteri ini, air yang digunakan untuk membuat susu formula harus mendidih, kemudian diamkan sebentar, baru digunakan untuk membuat susu. Susu yang telah dibuat sebaiknya habis dalam waktu empat jam. Bila tidak habis sebaiknya dibuang. Jangan terlalu lama menyimpannya yang akan menyebabkan perkembangbiakan bakteri ini. Selain itu, cuci bersih semua peralatan setelah digunakan dan sterilkan dahulu botol susu sebelum digunakan kembali.

November 30, 2007

Syifa, Buah Hati Tercinta

Filed under: Syifa - nurv3 @ 4:50 pm

Syifa

Hmpf waktu cepat berlalu. Eits ini bukan keluhan loh..

“Kemarin, rasanya baru tak anter ke sekolah. Eh sekarang dah punya anak.” Itu kalimat bapakku sesaat setelah aku melahirkan putri pertamaku, sekaligus cucu pertama bapak.

Kamis pagi tanggal 30 Agustus dia lahir. Syifa Jauza Azizah, nama yang kami rangkaikan untuknya, jauh sebelum kelahirannya. Dengan harapan dia kelak menjadi wanita cantik dan mulia, lahir juga batinnya. Serta mampu menjadi penawar duka bagi bapak dan ibunya. Insya Allah.

Syifa kecil lahir seberat 3,2 kg dan panjang 51 cm. Sekarang sudah mulai belajar berguling. Hampir tengkurap, tapi tangannya masih belum kuat menyangga tubuhnya. Meskipun begitu Syifa tetep giat berjuang. Ahamdulillah… tetep berjuang ya Nak, jangan kenal lelah. Umi dan Ayah selalu bedo’a untuk Syifa. Untuk kesehatan dan kesuksesan dalam hidup Syifa, di dunia maupun di hari yang kekal, akhirat. Semoga Allah mendengar do’a-do’a kami untuk buah hati tercinta.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa