Cerita dari Ummu Syifa

October 17, 2008

Haram Memajang Gambar Bernyawa

Filed under: Belajar - nurv3 @ 6:02 pm

Malam ini saya tertarik dengan sebuah situs yang menyertakan link download tentang hukum-hukum Islam, di antaranya adalah hukum foto. Menurut tulisan tersebut, haram hukumnya memajang gambar-gambar bernyawa (manusia dan bianatang). Saya sempat bertanya (yang kemudian terjawab di akhir tulisan) tentang memajang gambar pohon, bunga, bukankah itu makhluk hidup? Ternyata pohon tidak termasuk yang diharamkan. Berikut cuplikan hadist-hadits terkait dengan keharaman memajang gambar bernyawa.

“Barangsiapa yang membuat gambar didunia ini maka ia akan dibebani pada hari kiamat untuk meniupkan roh ke dalam gambar buatannya, namun ia tidak akan bisa meniupkannya.” (Mutaffaqun alaih)

Dalam kitab shahihain dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: Allah SWT berfirman (dalam salah satu hadits Qudsi): “Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mencipta sesuatu sebagaimana aku mencipta, maka hendaklah ia mencipta atom, atau mencipta sebutir biji-bijian atau hendaklah ia menciptakan sebiji gandum.” (lafadz Muslim)

Juga dalam shahihain dari Ibnu Umar semoga Allah meridhainya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah tukang gambar.”

Juga dalam shahihain dari Ibnu Umar semoga Allah meridhainya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari kiamat lalu dikatakan kepada mereka hidupkanlah apa-apa yang kalian ciptakan.” (lafadz oleh Bukhari)

Nah, dalil yang diutarakan jelas, dan mengenai pohon tadi (yang tidak dikategorikan gambar bernyawa) terdapat dalam dalil berikut.

Imam Muslim meriwayatkan dari Said bin Abil Hasan berkata: “Seorang laki-laki datang menemui Ibnu Abbas dan berkata: saya telah melukis gambar-gambar ini maka ber ilah saya fatwa!” Maka ia pun mendekat kepada hingga meletakkan tangannya diatas kepalanya dan berkata saya akan memberitahu kamu apa yang saya pernah dengan dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau bersabda: “Setiap orang yang membuat gambar berada dalam neraka, untuk setiap gambar yang dibuatkannya akan diberi roh guna menyiksa dirinya dalam neraka Jahannam.” Lalu ia berkata kalau anda terpaksa melakukannya maka buatlah gambar pohon atau apa yang tidak bernyawa.”

Muncul satu pertanyaan, bagaimana hukum video ceramah agama? Atau video pengetahuan Islam seperti Harun Yahya? Bukankah di dalamnya juga menampilkan gambar makhluk bernyawa? Bahkan gambarnya lebih hidup. Menurut seseorang yang berpendapat berdasarkan satu ceramah ulama, bahwa foto-foto atau video yang berisi benda-benda bernyawa apabila bermanfaat (misalkan seperti ceramah untuk tujuan dakwah) maka hal itu diperbolehkan.

Berkaitan dengan hal di atas, saya jadi ragu dengan gambar Syifa di blog ini. Saya pribadi senang memajang foto Syifa semata-mata karena keinginan saya saja, bukan untuk tujuan yang lain. Tentang manfaat, mungkin sekedar untuk identitas (menegaskan bahwa saya Ummu Syifa dan ini lho anak saya). Apakah itu juga dilarang?

Sumber: Dalil-dalil diambil dari sini

October 15, 2008

Serasa Punya Rumah Baru

Filed under: Belajar - nurv3 @ 5:57 pm

Bagaimana tampilan blog Ummu Syifa yang baru? Hm… menurut sang pemilik sih jadi lebih personal. Cokelat, lembut, ada foto Syifa cantik lagi di headernya. Seneng banget bisa buat “rumah” sendiri. Thx to yang udah bantu: Warga Bandung yang gemar ngurusin blog, internet marketing, plus teknologi, yang udah ngajarin masang header, freewebpageheaders yang ngasih image header gratis, colorschemer yang udah bantu buatin kode CSS warna-warna komplit, dan tentu saja Om Google yang tetep gesit ngasih tahu alamat rumah-rumah penting yang patut dikunjungi.

May 4, 2006

Ilmu Agama, Ilmu Terpenting

Filed under: Belajar, Kisah dan Hikmah - nurv3 @ 3:59 am

Kalau ada yang nanya, "Kuliah di mana?" Aku pasti akan menjawab, "Kimia UGM" Bangga, mungkin. Karena sudah ada image bahwa UGM adalah kampus paling top se-Jogja. Tapi bisa jadi penanya langsung mencibir, karena aku memang masuk di jurusan yang ngga bergengsi. Tapi masih mending kan kimia UGM daripada yang lain… hehehe. Tapi bisa juga jadi sial masuk UGM, karena makin hari makin banyak aja masalah di UGM, terutama masalah biaya. Tapi masalah sebenarnya bukanlah pertanyaan dan jawaban tadi. Sebenarnya ngga jadi masalah, ketika kuliah di mana pun, jurusan apa pun, karena pada hakikatnya adalah proses untuk menimba ilmu. Ilmu, seperti yang seseorang bilang beberapa waktu lalu, yang utama dan yang terpenting adalah ilmu agama. Sedangkan ilmu-ilmu yang lain, entah itu kimia, fisika, psikologi, bahkan astronomi atau antropologi sekalipun, sebenarnya hanya menjadi sarana untuk menimba ilmu-ilmu agama. Jadi, tetap yang nomor satu adalah belajar ilmu agama. Menurut uraian di atas, maka akan menjadi salah bila lebih mementingkan ilmu-ilmu lain dibanding ilmu agama. Akan menjadi salah bila hati lebih tergerak untuk ngutak-atik ilmu lain, selain ilmu agama. Akan jadi salah pula kalau mengesampingkan bahkan melupakan ilmu agama. Yang benar adalah mengutamakan ilmu agama daripada ilmu-ilmu yang lain. Menggunakan ilmu lain untuk memperkaya ilmu agama. Caranya? Gampang teorinya, tapi ngga gampang pelaksanaannya. Misal nih, di kimia banyak membahas masalah atom atau mungkin molekul suatu zat. Atom itu kan kecil sekali, bahkan ada yang bilang kalau atom itu bagian terkecil dari suatu zat. Tapi belakangan pendapat ini disanggah oleh ahli-ahli lain yang menemukan bahwa atom masih dapat dibagi lagi. Nah lo… Tentunya, saat belajar tentang atom, tidak membuat kita melulu bicara soal energi, reaksi, atau yang lain yang berhubungan dengan atom itu sendiri. Mungkin dengan memusingkan hitungan-hitungan atau pun mekanisme-mekanisme reaksi dari atom-atom suatu zat, malah justru membuat kita lupa bicara tentang point pentingnya. Kalau disebutkan ilmu agama adalah dasar dari segala ilmu, maka harusnya setiap mempelajari ilmu tidak boleh mengesampingkan ilmu agama. Saat belajar atom, bisa menjadi pengingat bahwa kita pun bernasib sama dengan sang atom. Kalau atom adalah materi terkecil dari suatu zat, maka kita pun punya posisi yang sama dengan atom bila dibandingkan dengan Sang Maha Besar. Jadi sambil belajar bisa ingat juga dengan hakikat penciptaan kita sebagai manusia. Ini point pentingnya. Ngga cuma itu. Kalau dikaitkan bakal banyak banget hal-hal di kimia yang bisa jadi perenungan. Dari cara suatu atom "berinteraksi" dengan atom lain. mengapa untuk atom ini tidak mengadakan ikatan dengan atom itu, tentang bagaimana si atom suatu unsur dapat menjadi stabil dengan menempati energi tertentu. Semua bisa dianalogikan dengan kehidupan manusia. Tentang interaksi sesama manusia, tentang hal-hal yang membuat manusia menjadi stabil. Pokoknya banyak hal bisa jadi bahan renungan. Intinya, semua kembali ke satu hal. Sebagai pengingat bahwa kita adalah manusia, dan ada kekuasaan yang lebih besar, yaitu Sang Maha. Tapi susah juga ya untuk sekedar mengingat adanya hal-hal "kecil" yang sebetulnya justru tidak boleh terlupakan. Ya, seperti uraian di atas tadi. Kesannya kalau belajar kimia, yang terpikir adalah ilmu ini terpisah dari ilmu agama. Yang terbayang kalau mendengar tentang ilmu agama adalah masalah sholat, puasa, zakat, haji, dll. Padahal justru dengan belajar ilmu-ilmu selain agama harus lebih mengingatkan kita tentang hakikat hidup di dunia.

April 18, 2006

An Nur 26 : “Like Dissolve Like”

Filed under: Belajar, Kisah dan Hikmah - nurv3 @ 6:38 am

Memang menyenangkan belajar bersama dosen yang lucu. Bukan sembarang lucu, tapi sekaligus mengandung makna. Kok bisa? Bisa aja. Seorang dosen bercerita tentang jodoh. Dulu, semasa belum mengajar, ia oleh teman-temannya dijuluki "trouble maker". Salah satu ulahnya adalah menjodohkan teman laki-lakinya yang disebut "ikhwan", dengan teman "akhwat"nya. Singkat cerita, dengan bumbu-bumbu "rahasia", kedua teman itu (baik yang ikhwan maupun akhwat) sama-sama GR alias Gede Rasa. Yang ikhwan dibilangin kalo akhwatnya suka sama dia, trus sebaliknya. Giliran di depan ikhwan, ia bilang kalau si mbak itu suka dengan masnya. Yah, namanya juga cari pahala, modal buat dapet rumah di surga. Begitu kan balasan orang-orang yang jadi "mak comblang"? :-) Pak Dosen melanjutkan dengan membaca salah satu ayat di surat An Nur yang mengatakan bahwa wanita-wanita keji untuklaki-laki yang keji, dan sebaliknya, laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji. Laki-laki yang baik untuk wanita-wanita baik, dan wanita-wanita baik juga hanya untuk laki-laki yang baik. Kata beliau melanjutkan, kalau di kimia, prinsip ini sesuai dengan prinsip like dissolve like. Mungkin hanya anak-anak kimia saja yang tahu, atau anak prodi lain yang kebetulan suka dengan bahsan ini kemudian mencari tahu di buku-buku kimia. Like dissolve like mengatakan bahwa suatu zat yang polar akan larut dalam pelarut polar, dan sebaliknya suatu zat yang nonpolar juga hanya bisa terlarut dengan pelarut nonpolar saja. Dosen mengaitkannya dengan ayat tadi. Bahwa laki-laki yang baik ya jodohnya pastilah perempuan yang baik. Trus kalau laki-laki kurang baik pasti dapetnya juga yang seperti dia. Lalu dia bertanya sendiri, bagamana denga kasus laki-lakinya ustadz, tapi dapat wanita yang ngga baik? Ya mungkin saja dengan begitu, Allah hendak mengubah/memperbaiki akhlak wanita tadi melalui si lelaki. Makanya, beliau bilang, kalau ingin dapat jodoh yang baik ya musti memperbaiki diri. Hmpf… memang menyenangkan kuliah dengan Pak Dosen yang satu ini. Sayang, soal-soal MID yang keluar ngga se-asyik "dakwah" beliau di kelas :-(

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa