UGM Berantakan Diterjang Tornado
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. [Al Baqoroh:155]
Kali ini, berkendara di tengah hujan lebat memberikan ketakutan tersendiri bagi saya. Peristiwa Jum’at sore lalu membuat saya masih berdebar ketika harus naik motor pada saat hujan. Dan sore ini, mau tidak mau saya harus berangkat juga, karena ujian Pengantar Teknologi Informasi tengah menunggu.
Ketakutan yang sampai sekarang masih saya rasakan berawal ketika Jum’at siang (menjelang sore) saya, suami, dan Syifa pergi ke Mirota Kampus untuk membeli berbagai keperluan. Mulanya supermarket terlihat biasa saja. Para pengunjung pun tampak tenang berbelanja. Hingga saat saya yang tengah menggendong Syifa akan naik eskalator ke lantai tiga, terdengar suara orang-orang panik, dan sesaat kemudian mereka berlarian ke bawah. Memang, saat itu hujan telah turun. Namun saya masih tidak tahu apa yang terjadi.
Melihat orang-orang berhamburan ke bawah melewati tangga, saya jadi bingung. Eskalator sudah membawa kami ke seperempat perjalanan. Suami menyuruh saya untuk berbalik. Kontan saja saya berbalik dan turun meski eskalator tetap berjalan ke atas. Sungguh, saya deg-degan. Baru kali ini mencoba "permainan" mengerikan. Berlari ke bawah di atas eskalator yang bergerak ke atas. Apa yang terlintas di pikiran saya saat itu? Saya mengira ada teror bom. Ternyata dugaan saya salah.
Di ujung pintu, orang-orang saling berdesakan. Saya melihat ke luar, ternyata di samping hujan turun dengan sangat lebat, angin juga bertiup sangat kencang. Pohon-pohon sampai tertarik dengan kuat mengikuti arah angin. Semua pengunjung tampak panik dan sebagian besar malah memenuhi jalan masuk. Saya memilih untuk masuk agak ke dalam. Saat itu kebetulan Syifa rewel minta minum. Kami mengungsi di rak pojok, tempat biskuit dan wafer ditata rapi. Kemudian saya tak bisa melihat apa-apa lagi karena semua kaca ditutup.
Setelah melihat ke luar, saya sangat terkejut. Innalillaahi… apa yang telah terjadi tadi? Saya lihat di sekeliling Mirota Kampus, pohon-pohon tumbang. Sampai di situ saya belumlah terlalu takut dengan apa yang terjadi. Hingga hati ini semakin merinding ketika mobil berjalan melewati Jalan Kaliurang. Pemandangan sungguh mengerikan. Mulai dari perempatan Mirota, spanduk besar terhempas di tengah jalan. Sebagian genteng di Kampus MIPA selatan terbang ditiup angin. Gelas besar yang menjadi lambang KFC bolong, tinggal kerangkanya saja. Pohon besar di depan Fakultas Pertanian roboh, sebagian aspal sampai terangkat di akar pohon. Plang Fakultas tersebut juga roboh.
Mobil kami terus melaju. Sebagian besar tepi jalan masih tergenang air. Sampai di jalan depan GSP, pemandangan lebih memilukan. Pohon-pohon di tepi jalan tersebut telah banyak yang tumbang. Kabel-kabel listrik nglewer begitu saja. Hingga sampai di depan Kampus MIPA sekip utara, saya lega kampus saya masih baik-baik saja. Namun kelegaan saya hanya sampai saat ujian sore tadi. Ternyata di lapangan basket kampus sudah dipenuhi dengan pohon-pohon yang tak tegak lagi. Bahkan saat saya hendak keluar kampus melewati jalan tembusan ke Sardjito, sebuah pohon besar masih tergolek menutupi jalan tersebut. Suasana mendung dengan hujan yang mengguyur membuat jalan tersebut tampak mati. Saya urung dan memutar kendaraan. Saya hanya bisa beristighfar. Perjalanan masih panjang dan hujan yang masih belum berhenti menyisakan ketakutan di hati saya.
*Lihat video tentang tornado Jum’at lalu di sini
*Gambar diambil dari sini
