Butterfly Effect dari Seorang Bu Mus

Laskar Pelangi.
Siapa sih yang tidak kenal novel ini? Novel laris yang ditulis oleh Andrea Hirata ini memang tidak berlebihan bila dijuluki dengan Indonesia’s Most Powerful Book. Novel ini mengisahkan tentang sepuluh murid SD Muhammadiyah di kawasan Belitong. Mereka adalah Ikal, Mahar, Kucai, A Kiong, Trapani, Sahara, Samson, Lintang, Syahdan dan Harun. Nama yang disebut terakhir dikisahkan sebagai "hero", karena kedatangannya menjadikan sekolah yang mirip gudang kopra ini tidak jadi ditutup. Meskipun sebenarnya Harun "terlarang bersekolah di sana karena keterbelakangan mental. Belakangan murid SD bertambah satu dengan hadirnya Flo, mantan murid di SD mewah PN.
Bu Mus, sebagai guru segala bidang merupakan simbol seorang pengajar sekaligus pengabdi yang tulus. Ia hanya satu-satunya guru di sekolah itu. Namun siapa sangka, dari seorang Bu Mus lahir pribadi-pribadi yang cerdas, tangguh, dan memiliki kepribadian. Ikal, sebagai tokoh utamanya, yang tidak lain adalah penulis LP sendiri, merupakan salah satu contoh nyata dari hasil didikan Bu Mus. Semangat belajarnya mampu mengubah hidupnya 180 derajat. Dari menjadi seorang tukang sortir surat di kantor pos, hingga memiliki gelar S2 dari sebuah universitas di Inggris. Lintang, idola sekaligus teman sebangku Ikal merupakan contoh ke dua. Otaknya super jenius. Kemampuannya melebihi anak-anak lain seusianya. Hanya saja karena prioritas untuk menghidupi keluarganya, ia tersandung untuk bisa menjadi sesukses Ikal. Dampak didikan Bu Mus tampaknya tidak hanya dirasakan secara langsung oleh murid-murid SD kampung Belitong tersebut, namun juga oleh orang lain yang notabene bukan siapa-siapa, bahkan tak pernah mengenal sosok Bu Mus. Dia adalah seorang pecandu narkoba. Kalau Anda menyaksikan Kick Andy edisi spesial Laskar Pelangi, Anda akan tahu kisahnya.
Sebuah surat dibacakan saat acara tersebut. Surat seorang ibu yang menceritakan tentang keputus asaan dirinya terhadap anaknya. Anaknya adalah seoang pecandu narkoba. Ibu itu sampai frustasi melihat tingkah anaknya yang selalu bermalas-malasan dan tak henti-hentinya menghisap barang haram. Skripsinya sudah lama tak tersentuh. Namun suatu ketika ibu itu terkejut ketika melihat anaknya menangis tersedu di kamar. Saat ditanya, anak itu kemudian berterus terang bahwa ia menangis karena malu. Ia berjanji pada ibunya akan berubah dan menyelesaikan skripsinya. Buku yang telah menyadarkan seorang pecandu tersebut berjudul Laskar Pelangi.
Jasa Bu Mus memang begitu besar. Dari satu nama yang tak pernah dikenal, bermunculan individu-individu dengan karakter yang tangguh. Muncul sosok berkepribadian hebat. Dari seorang Bu Mus, seseorang yang dulunya adalah "sampah masyarakat" mau bertobat untuk menjadi orang yang lebih baik. Bu Mus memberikan butterfly effect. Sayap ketulusan Bu Mus yang terkepak di sebuah sekolah kampung Belitong mampu menjadi tornado bagi kesepuluh muridnya, juga bagi seorang pecandu narkoba. Keikhlasan Bu Mus mengajar di sebuah sekolah terpencil dengan gaji minim memberikan efek yang sangat positif bagi murid-muridnya. Mungkin masih banyak kisah-kisah lain sebagai efek keikhlasan seorang Bu Mus, yang tak sempat terekspose. Keikhlasan Bu Mus telah mengubah hal kecil menjadi besar. Seorang pecandu narkoba yang dikisahkan di atas mungkin belum akan bertobat bila tidak membaca novel ini. Dan novel ini, Laskar Pelangi, mungkin tidak akan lahir bila si Ikal tidak kenal dengan sosok Bu Mus. Bu Mus telah mengubah satu hal dan dengannya ia mengubah semuanya. "Change one thing, change everything".
