Cerita dari Ummu Syifa

November 8, 2008

UGM Berantakan Diterjang Tornado

Filed under: Kisah dan Hikmah - nurv3 @ 8:34 pm

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. [Al Baqoroh:155]

Puting Beliung Jogja

Kali ini, berkendara di tengah hujan lebat memberikan ketakutan tersendiri bagi saya. Peristiwa Jum’at sore lalu membuat saya masih berdebar ketika harus naik motor pada saat hujan. Dan sore ini, mau tidak mau saya harus berangkat juga, karena ujian Pengantar Teknologi Informasi tengah menunggu.

Ketakutan yang sampai sekarang masih saya rasakan berawal ketika Jum’at siang (menjelang sore) saya, suami, dan Syifa pergi ke Mirota Kampus untuk membeli berbagai keperluan. Mulanya supermarket terlihat biasa saja. Para pengunjung pun tampak tenang berbelanja. Hingga saat saya yang tengah menggendong Syifa akan naik eskalator ke lantai tiga, terdengar suara orang-orang panik, dan sesaat kemudian mereka berlarian ke bawah. Memang, saat itu hujan telah turun. Namun saya masih tidak tahu apa yang terjadi.

Melihat orang-orang berhamburan ke bawah melewati tangga, saya jadi bingung. Eskalator sudah membawa kami ke seperempat perjalanan. Suami menyuruh saya untuk berbalik. Kontan saja saya berbalik dan turun meski eskalator tetap berjalan ke atas. Sungguh, saya deg-degan. Baru kali ini mencoba "permainan" mengerikan. Berlari ke bawah di atas eskalator yang bergerak ke atas. Apa yang terlintas di pikiran saya saat itu? Saya mengira ada teror bom. Ternyata dugaan saya salah.

Di ujung pintu, orang-orang saling berdesakan. Saya melihat ke luar, ternyata di samping hujan turun dengan sangat lebat, angin juga bertiup sangat kencang. Pohon-pohon sampai tertarik dengan kuat mengikuti arah angin. Semua pengunjung tampak panik dan sebagian besar malah memenuhi jalan masuk. Saya memilih untuk masuk agak ke dalam. Saat itu kebetulan Syifa rewel minta minum. Kami mengungsi di rak pojok, tempat biskuit dan wafer ditata rapi. Kemudian saya tak bisa melihat apa-apa lagi karena semua kaca ditutup.

Setelah melihat ke luar, saya sangat terkejut. Innalillaahi… apa yang telah terjadi tadi? Saya lihat di sekeliling Mirota Kampus, pohon-pohon tumbang. Sampai di situ saya belumlah terlalu takut dengan apa yang terjadi. Hingga hati ini semakin merinding ketika mobil berjalan melewati Jalan Kaliurang. Pemandangan sungguh mengerikan. Mulai dari perempatan Mirota, spanduk besar terhempas di tengah jalan. Sebagian genteng di Kampus MIPA selatan terbang ditiup angin. Gelas besar yang menjadi lambang KFC bolong, tinggal kerangkanya saja. Pohon besar di depan Fakultas Pertanian roboh, sebagian aspal sampai terangkat di akar pohon. Plang Fakultas tersebut juga roboh.

Mobil kami terus melaju. Sebagian besar tepi jalan masih tergenang air. Sampai di jalan depan GSP, pemandangan lebih memilukan. Pohon-pohon di tepi jalan tersebut telah banyak yang tumbang. Kabel-kabel listrik nglewer begitu saja. Hingga sampai di depan Kampus MIPA sekip utara, saya lega kampus saya masih baik-baik saja. Namun kelegaan saya hanya sampai saat ujian sore tadi. Ternyata di lapangan basket kampus sudah dipenuhi dengan pohon-pohon yang tak tegak lagi. Bahkan saat saya hendak keluar kampus melewati jalan tembusan ke Sardjito, sebuah pohon besar masih tergolek menutupi jalan tersebut. Suasana mendung dengan hujan yang mengguyur membuat jalan tersebut tampak mati. Saya urung dan memutar kendaraan. Saya hanya bisa beristighfar. Perjalanan masih panjang dan hujan yang masih belum berhenti menyisakan ketakutan di hati saya.

*Lihat video tentang tornado Jum’at lalu di sini

*Gambar diambil dari sini

Butterfly Effect dari Seorang Bu Mus

Filed under: Kisah dan Hikmah - nurv3 @ 7:33 pm

Butterfly Effect

Laskar Pelangi.

Siapa sih yang tidak kenal novel ini? Novel laris yang ditulis oleh Andrea Hirata ini memang tidak berlebihan bila dijuluki dengan Indonesia’s Most Powerful Book. Novel ini mengisahkan tentang  sepuluh murid SD Muhammadiyah di kawasan Belitong. Mereka adalah Ikal, Mahar, Kucai, A Kiong, Trapani, Sahara, Samson, Lintang, Syahdan dan Harun. Nama yang disebut terakhir dikisahkan sebagai "hero", karena kedatangannya menjadikan sekolah yang mirip gudang kopra ini tidak jadi ditutup. Meskipun sebenarnya Harun "terlarang bersekolah di sana karena keterbelakangan mental. Belakangan murid SD bertambah satu dengan hadirnya Flo, mantan murid di SD mewah PN.

Bu Mus, sebagai guru segala bidang merupakan simbol seorang pengajar sekaligus pengabdi yang tulus. Ia hanya satu-satunya guru di sekolah itu. Namun siapa sangka, dari seorang Bu Mus lahir pribadi-pribadi yang cerdas, tangguh, dan memiliki kepribadian. Ikal, sebagai tokoh utamanya, yang tidak lain adalah penulis LP sendiri, merupakan salah satu contoh nyata dari hasil didikan Bu Mus. Semangat belajarnya mampu mengubah hidupnya 180 derajat. Dari menjadi seorang tukang sortir surat di kantor pos, hingga memiliki gelar S2 dari sebuah universitas di Inggris. Lintang, idola sekaligus teman sebangku Ikal merupakan contoh ke dua. Otaknya super jenius. Kemampuannya melebihi anak-anak lain seusianya. Hanya saja karena prioritas untuk menghidupi keluarganya, ia tersandung untuk bisa menjadi sesukses Ikal. Dampak didikan Bu Mus tampaknya tidak hanya dirasakan secara langsung oleh murid-murid SD kampung Belitong tersebut, namun juga oleh orang lain yang notabene bukan siapa-siapa, bahkan tak pernah mengenal sosok Bu Mus. Dia adalah seorang pecandu narkoba. Kalau Anda menyaksikan Kick Andy edisi spesial Laskar Pelangi, Anda akan tahu kisahnya.

Sebuah surat dibacakan saat acara tersebut. Surat seorang ibu yang menceritakan tentang keputus asaan dirinya terhadap anaknya. Anaknya adalah seoang pecandu narkoba. Ibu itu sampai frustasi melihat tingkah anaknya yang selalu bermalas-malasan dan tak henti-hentinya menghisap barang haram. Skripsinya sudah lama tak tersentuh. Namun suatu ketika ibu itu terkejut ketika melihat anaknya menangis tersedu di kamar. Saat ditanya, anak itu kemudian berterus terang bahwa ia menangis karena malu. Ia berjanji pada ibunya akan berubah dan menyelesaikan skripsinya. Buku yang telah menyadarkan seorang pecandu tersebut berjudul Laskar Pelangi.

Jasa Bu Mus memang begitu besar. Dari satu nama yang tak pernah dikenal, bermunculan individu-individu dengan karakter yang tangguh. Muncul sosok berkepribadian hebat. Dari seorang Bu Mus, seseorang yang dulunya adalah "sampah masyarakat" mau bertobat untuk menjadi orang yang lebih baik. Bu Mus memberikan butterfly effect. Sayap ketulusan Bu Mus yang terkepak di sebuah sekolah kampung Belitong mampu menjadi tornado bagi kesepuluh muridnya, juga bagi seorang pecandu narkoba. Keikhlasan Bu Mus mengajar di sebuah sekolah terpencil dengan gaji minim memberikan efek yang sangat positif bagi murid-muridnya. Mungkin masih banyak kisah-kisah lain sebagai efek keikhlasan seorang Bu Mus, yang tak sempat terekspose. Keikhlasan Bu Mus telah mengubah hal kecil menjadi besar. Seorang pecandu narkoba yang dikisahkan di atas mungkin belum akan bertobat bila tidak membaca novel ini. Dan novel ini, Laskar Pelangi, mungkin tidak akan lahir bila si Ikal tidak kenal dengan sosok Bu Mus. Bu Mus telah mengubah satu hal dan dengannya ia mengubah semuanya. "Change one thing, change everything".

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa