MIPA, Tak Kenal Ujian Susulan
Siang ini saya dikejutkan dengan berita menyedihkan tentang teman saya. Lewat telepon, saya diberitahu bahwa Destin kecelakaan. What?
"Kapan?"
"Trus gimana keadaanya?"
Dia yang diseberang langsung kuserbu dengan pertanyaan.
Destin kecelakaan hingga patah tulang. Innalillah… padahal sore ini dia harus ujian Bioteknologi dan besok ada ujian Pemodelan dan Simulasi Molekuler. Destin, cepet sembuh ya. Saya jadi kasihan padanya, mengingat di jurusan kami tidak membolehkan adanya ujian susulan. Bagaimana nanti dengan nilai-nilainya? Memang, jurusan menyediakan layanan ujian di rumah sakit sebagai alternatif bagi mahasiswa yang sedang sakit, tapi bila kondisi mahasiswa sedang tidak memungkinkan untuk melaksanakan ujian, apakah hal itu masih bisa dibilang alternatif yang baik?
Saya sempat ngobrol dengan suami tentang ujian susulan ini. Menurutnya kebijakan fakultas terlalu kaku, padahal di kampus tempatnya mengajar ada kebijakan ujian susulan bagi mahasiswa yang sakit. Saya jadi teringat pengalaman yang sama beberapa bulan yang lalu yang membuat saya terpaksa ujian di rumah sakit. Saat itu bukan saya yang sedang sakit, namun Syifa yang sedang diuji oleh Allah. Saat itu, saya sedang menunggui Syifa yang opname karena kena DHF. Suamilah akhirnya yang terpaksa ke fakultas untuk mengurus prosedur ujian di rumah sakit. Syarat yang harus dilengkapi adalah surat keterangan sakit dari dokter. Untunglah saya dapat melaksanakan ujian di rumah sakit. Saat itu, dua mata kuliah, dua hari berturut-turut saya mengerjakan ujian dengan "ditemani" Syifa. Saya mengerjakan dengan konsentrasi, maksudnya konsentrasi yang selalu tertuju pada Syifa. Ya iyalah… siapa sih yang bisa konsentrasi menjawab soal ujian sementara anaknya mengaduh kesakitan dan merengek minta digendong?
Saya hanya berharap agar suatu saat MIPA bisa mengubah dan mengganti kebijakan tersebut dengan yang lebih baik. Sayang kan, kalau mahasiswa harus kehilangan nilai karena sakit?
