Akankah Kami Dipertemukan Kembali
Salah seorang teman pernah berkata, "Berpisah dengan suami itu berat." Dia (yang bercerita itu) telah terbiasa hidup sendiri, tanpa kehadiran suami di sisinya. Ia masih muda, seorang ibu muda, sama seperti saya, hanya saja usianya setahun lebih tua dari saya. Dia ibu dari seorang anak, sama juga seperti saya. Hanya nasib kami yang sedikit berbeda. Suaminya kerja di Jakarta. Dari awal dia mengandung anak pertamanya, suaminya sudah mulai mencari kerja di luar Jawa. Hingga akhirnya sampai sekarang dapat pekerjaan barunya dan masih di Jakarta, sedang ia di Semarang dengan keluarganya. Pernah suatu ketika saya bertanya, "Kalau kangen dengan suami gimana mbak?" Dia menjawab, "Ya liat fotonya, telepon…" Wah, saya tidak bisa membayangkan, bagaimana beratnya berpisah dengan suami tercinta. Memang, teknologi dapat membuat jarak menjadi tak berarti. Namun rindu di hati, teknologi apa yang bisa mengobati? Tampaknya aku harus belajar untuk "berpisah". Perpisahan memang selalu terdengar menyakitkan. Aku tak mau membayangkannya. Namun Ayah Syifa pernah bilang, kenyataan biasanya tak seseram bayangan kita. Entahlah Yah, apakah Ummi bisa benar-benar meresapi nasihat yang sering Ayah berikan itu. Ummi cuma berharap Ayah akan baik-baik saja di mana pun Ayah berada. Semoga Ayah dan Yangti diberikan kemudahan menjalankan ibadah di Baitullah. Semoga Ayah diberi kemudahan dan kelancaran belajar di negeri kangguru nanti. Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan keadaan yang lebih baik lagi. Amin. Love ya always.

sepertinya saya tau siapa dia..
Comment by syifa — October 25, 2008 @ 2:16 pm
perpisahan memang menyedihkan, tapi apakah kita harus terus bersedih memikirkannya..
percayakan kepada Allah semuanya, insyaAllah akan lebih tenang..
Comment by fatimah — November 16, 2008 @ 11:32 am