Cerita dari Ummu Syifa

October 17, 2008

Menjadi yang Terbaik Di Posisi Masing-Masing

Filed under: Kisah dan Hikmah - nurv3 @ 7:20 pm

Be the Best in Our Position Pagi itu Jogja masih adem. Sebentar lagi matahari pasti akan menjalankan ritual hariannya, perlahan merangkak naik, menyebarkan energinya yang kemudian sampai ke bumi setelah tersaring oleh ozon, untuk berbagai keperluan makhluk hidup di bumi. Herannya, masih ada yang mengeluh, panas…

Seorang laki-laki di salah satu area, berpakaian putih khas seorang pengaman (baca: security) asyik menjalankan perannya. Bukan, ia tidak sedang berdiri tegap ala satpam-satpam di perusahaan-perusahaan besar. Ia asyik mengatur kendaraan yang ada di area parkir. Satu orang datang menaiki motor yang melaju mendekati area tersebut. Tangan laki-laki itu bergerak-gerak, seperti polisi pengatur lalu lintas di pinggir jalan raya, mengarahkan motor untuk melaju ke tempat yang kosong, sambil terus memperhatikan sekeliling. Sesekali mulutnya mengeluarkan perintah, menunjukkan area yang nyempil (mubadzir kalau tidak digunakan untuk parkir).

Sementara di sudut lain, seseorang dengan jabatan yang sama (warna seragamnya saja yang berbeda) sama-sama asyik, menunaikan tugasnya. Namun ia sedikit lebih santai. Dengan beberapa rekannya (lebih dari dua, dengan rekan ngobrol maksudnya) ia menjulurkan tangannya, memberikan kartu kepada motor yang melaju dan berhenti di samping meja, tepat di depan tempat duduknya. Dua buah kartu parkir kecil berlaminating, yang satu plus tali lengkap dengan nomor, yang wajib digantungkan di motor, dan yang satu dibawa oleh pemilik motor tersebut. Dari pagi hingga siang (mungkin ada yang sampai sore) kerjaannya hanya begitu saja.

Dengan jabatan sama, tentu saja hak yang didapat (baca: gaji) juga sama (dengan asumsi pribadi, sehingga apabila nanti ada kesalahan, mohon dikoreksi). Namun dua orang dalam kisah di atas menjalankan kewajibannya dengan sedikit berbeda. Yang satu mungkin akan bermandikan peluh dengan olah raga gratis yang ia tekuni dengan memindah-mindah motor dan mengaturnya hingga tampak rapi. Yang lain santai, sehingga baju seragamnya mungkin masih akan bau wangi setelah tiga hari dipakai (ngga keringetan sih). Lalu, apakah yang diterima oleh kedua orang tersebut sama? Tentu saja berbeda. Posisi dan gaji boleh sama, namun ada sesuatu yang akan didapat oleh pelaku pertama, dan tidak dengan pelaku kedua. Apa itu? Pelaku pertama menjalankan tugasnya dengan lebih baik. Ia berusaha menjadi yang terbaik di posisi yang ia tempati. Hal ini akan mendatangkan sebuah penghargaan bagi dirinya. Bukan penghargaan berupa materi, namun penghargaan batin. Dengan menjalankan tugasnya dengan baik, ia akan mendapatkan hasil yang baik pula. Ia akan hidup dengan tenang karena rezeki yang ia dapatkan halal, setimpal dengan kerja kerasnya. Ia pun tak merasa terbebani, karena melakukan pekerjaannya dengan senang hati. Pelaku kedua mungkin akan dapat materi saja, tidak akan mengecap kepuasan batin. Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk berbuat yang terbaik pada posisi kita masing-masing.

Terinspirasi oleh satpam di sebuah kampus di Jogja.

Memberi, Tak Hanya Kuantitas Tapi Juga Kualitas

Filed under: Kisah dan Hikmah - nurv3 @ 6:12 pm

Di luar, matahari telah merayap naik, membuat siang semakin panas. Di sebuah gedung yang tak seorang pun pernah meminta berada di sana, tampak seorang berwajah tua, mengenakan kopyah dan menenteng tas. Kakek tua yang berjalan tidak tegak lagi, mondar-mandir di depan ruangan berbau obat, kemudian mengantri, dan sebentar kemudian masuk ke ruangan kecil, serba putih. Sang kakek sedang menemui seorang dokter.

Di ruangan serba putih itu kakek duduk berhadapan dengan seorang dokter wanita. Setelah beberapa saat, ia keluar ruangan, berhenti sejenak, memandang ke depan lalu mengayunkan langkah. Kakek berjalan ke depan, masih dengan badan yang tidak tegap. Seseorang menghampirinya dan sang kakek berbalik, rupanya salah arah. Ia berjalan, kini ke arah yang berlawanan dengan arah jalannya tadi, menuju apotek. Rupanya sang kakek hendak menebus resep dari seseorang berjas putih di ruangan tadi. Kakek menunggu sambil membuka-buka isi tasnya, entah apa yang sedang dicarinya.

Panggilan petugas tampak jelas menyebut nama kakek tadi. Kakek segera bangkit menuju tempat pembayaran obat. Mendadak wajahnya cemas setelah mendengar nominal yang disebutkan oleh perempuan di depan kaca. Harga yang tidak sedikit. Sang kakek bingung, kemudian mengitari pandangan tak jelas. Sempat ia meminta untuk menebus sebagian obat saja dan tidak mengambil obat yang lain. Lalu, entah darimana asalnya, tiba-tiba seseorang menghampirinya. Seseorang yang tadi sempat berada di samping sang kakek, mengulurkan beberapa lembar rupiah ke tangan kakek. Uang itu mungkin tidak seberapa baginya, namun bagi sang kakek sangat berarti saat itu. Sang kakek menjabat tangan orang itu dan mengucapkan terima kasih. Rasa senang dan heran tergambar jelas pada air mukanya. Kakek dan orang itu kemudian terlibat percakapan yang panjang.

Haram Memajang Gambar Bernyawa

Filed under: Belajar - nurv3 @ 6:02 pm

Malam ini saya tertarik dengan sebuah situs yang menyertakan link download tentang hukum-hukum Islam, di antaranya adalah hukum foto. Menurut tulisan tersebut, haram hukumnya memajang gambar-gambar bernyawa (manusia dan bianatang). Saya sempat bertanya (yang kemudian terjawab di akhir tulisan) tentang memajang gambar pohon, bunga, bukankah itu makhluk hidup? Ternyata pohon tidak termasuk yang diharamkan. Berikut cuplikan hadist-hadits terkait dengan keharaman memajang gambar bernyawa.

“Barangsiapa yang membuat gambar didunia ini maka ia akan dibebani pada hari kiamat untuk meniupkan roh ke dalam gambar buatannya, namun ia tidak akan bisa meniupkannya.” (Mutaffaqun alaih)

Dalam kitab shahihain dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: Allah SWT berfirman (dalam salah satu hadits Qudsi): “Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mencipta sesuatu sebagaimana aku mencipta, maka hendaklah ia mencipta atom, atau mencipta sebutir biji-bijian atau hendaklah ia menciptakan sebiji gandum.” (lafadz Muslim)

Juga dalam shahihain dari Ibnu Umar semoga Allah meridhainya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah tukang gambar.”

Juga dalam shahihain dari Ibnu Umar semoga Allah meridhainya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar ini akan disiksa pada hari kiamat lalu dikatakan kepada mereka hidupkanlah apa-apa yang kalian ciptakan.” (lafadz oleh Bukhari)

Nah, dalil yang diutarakan jelas, dan mengenai pohon tadi (yang tidak dikategorikan gambar bernyawa) terdapat dalam dalil berikut.

Imam Muslim meriwayatkan dari Said bin Abil Hasan berkata: “Seorang laki-laki datang menemui Ibnu Abbas dan berkata: saya telah melukis gambar-gambar ini maka ber ilah saya fatwa!” Maka ia pun mendekat kepada hingga meletakkan tangannya diatas kepalanya dan berkata saya akan memberitahu kamu apa yang saya pernah dengan dari Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau bersabda: “Setiap orang yang membuat gambar berada dalam neraka, untuk setiap gambar yang dibuatkannya akan diberi roh guna menyiksa dirinya dalam neraka Jahannam.” Lalu ia berkata kalau anda terpaksa melakukannya maka buatlah gambar pohon atau apa yang tidak bernyawa.”

Muncul satu pertanyaan, bagaimana hukum video ceramah agama? Atau video pengetahuan Islam seperti Harun Yahya? Bukankah di dalamnya juga menampilkan gambar makhluk bernyawa? Bahkan gambarnya lebih hidup. Menurut seseorang yang berpendapat berdasarkan satu ceramah ulama, bahwa foto-foto atau video yang berisi benda-benda bernyawa apabila bermanfaat (misalkan seperti ceramah untuk tujuan dakwah) maka hal itu diperbolehkan.

Berkaitan dengan hal di atas, saya jadi ragu dengan gambar Syifa di blog ini. Saya pribadi senang memajang foto Syifa semata-mata karena keinginan saya saja, bukan untuk tujuan yang lain. Tentang manfaat, mungkin sekedar untuk identitas (menegaskan bahwa saya Ummu Syifa dan ini lho anak saya). Apakah itu juga dilarang?

Sumber: Dalil-dalil diambil dari sini

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa