Pagi itu Jogja masih adem. Sebentar lagi matahari pasti akan menjalankan ritual hariannya, perlahan merangkak naik, menyebarkan energinya yang kemudian sampai ke bumi setelah tersaring oleh ozon, untuk berbagai keperluan makhluk hidup di bumi. Herannya, masih ada yang mengeluh, panas…
Seorang laki-laki di salah satu area, berpakaian putih khas seorang pengaman (baca: security) asyik menjalankan perannya. Bukan, ia tidak sedang berdiri tegap ala satpam-satpam di perusahaan-perusahaan besar. Ia asyik mengatur kendaraan yang ada di area parkir. Satu orang datang menaiki motor yang melaju mendekati area tersebut. Tangan laki-laki itu bergerak-gerak, seperti polisi pengatur lalu lintas di pinggir jalan raya, mengarahkan motor untuk melaju ke tempat yang kosong, sambil terus memperhatikan sekeliling. Sesekali mulutnya mengeluarkan perintah, menunjukkan area yang nyempil (mubadzir kalau tidak digunakan untuk parkir).
Sementara di sudut lain, seseorang dengan jabatan yang sama (warna seragamnya saja yang berbeda) sama-sama asyik, menunaikan tugasnya. Namun ia sedikit lebih santai. Dengan beberapa rekannya (lebih dari dua, dengan rekan ngobrol maksudnya) ia menjulurkan tangannya, memberikan kartu kepada motor yang melaju dan berhenti di samping meja, tepat di depan tempat duduknya. Dua buah kartu parkir kecil berlaminating, yang satu plus tali lengkap dengan nomor, yang wajib digantungkan di motor, dan yang satu dibawa oleh pemilik motor tersebut. Dari pagi hingga siang (mungkin ada yang sampai sore) kerjaannya hanya begitu saja.
Dengan jabatan sama, tentu saja hak yang didapat (baca: gaji) juga sama (dengan asumsi pribadi, sehingga apabila nanti ada kesalahan, mohon dikoreksi). Namun dua orang dalam kisah di atas menjalankan kewajibannya dengan sedikit berbeda. Yang satu mungkin akan bermandikan peluh dengan olah raga gratis yang ia tekuni dengan memindah-mindah motor dan mengaturnya hingga tampak rapi. Yang lain santai, sehingga baju seragamnya mungkin masih akan bau wangi setelah tiga hari dipakai (ngga keringetan sih). Lalu, apakah yang diterima oleh kedua orang tersebut sama? Tentu saja berbeda. Posisi dan gaji boleh sama, namun ada sesuatu yang akan didapat oleh pelaku pertama, dan tidak dengan pelaku kedua. Apa itu? Pelaku pertama menjalankan tugasnya dengan lebih baik. Ia berusaha menjadi yang terbaik di posisi yang ia tempati. Hal ini akan mendatangkan sebuah penghargaan bagi dirinya. Bukan penghargaan berupa materi, namun penghargaan batin. Dengan menjalankan tugasnya dengan baik, ia akan mendapatkan hasil yang baik pula. Ia akan hidup dengan tenang karena rezeki yang ia dapatkan halal, setimpal dengan kerja kerasnya. Ia pun tak merasa terbebani, karena melakukan pekerjaannya dengan senang hati. Pelaku kedua mungkin akan dapat materi saja, tidak akan mengecap kepuasan batin. Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk berbuat yang terbaik pada posisi kita masing-masing.
Terinspirasi oleh satpam di sebuah kampus di Jogja.