Cerita dari Ummu Syifa

October 29, 2008

Dilema Fotografi

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 6:10 pm

Sebuah foto adalah benda mati. Namun karena ia sangat mirip dengan aslinya, ia bisa benar-benar tampak hidup. Manusia, pemandangan alam, binatang, jalan, jembatan, semuanya bisa menjadi objek yang menarik untuk diambil gambarnya.

Saya sangat suka melihat pemandangan alam. Dalam sebuah foto, pemandangan alam bisa tampak menarik seindah aslinya. Saya pernah bermimpi ingin menjadi fotografer. Jeprat-jepret sana sini, "mengambil" ciptaan Allah yang indah untuk dinikmati pada saat-saat tertentu. Kalau kakak saya bilang liat ikan bisa menghilangkan stress, saya bilang foto-foto pemandangan alam lah yang dapat mengusir kepenatan.

Ayah Syifa akhir-akhir ini sedang rajin mengunjungi toko kamera online. Awalnya termotivasi oleh cita-cita kami untuk buka usaha online yang mewajibkan memerlukan kehadiran digicam. Saya jadi teringat tentang mimpi keinginan saya dulu untuk jepret sana jepret sini. Wah kalau ada kamera, pasti saya bisa mewujudkan keinginan saya. Paling tidak untuk saat ini, Syifa yang akan jadi objek saya :-D

Namun dalam hati ada dilema. Saya memang suka fotografi, tapi ketika saya nanti hendak memotret makhluk bernyawa, pasti hati saya kontra lagi. Halal tidak ya?

Tanya Apa, Jawab Apa

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 6:08 pm

"Gimana, bisa ngga?"
"Kena di Pak Win."
Heh? Ngga nyambung.

"Maksudnya Pak TJR?"
"Pak Win"

Aku langsung nangkep.
"Emang kamu dapet apa?"
"B" dengan muka cemberut.
"Kena di biokimia ya? Pak Win kan jago biokimia." psst… padahal sampai cerita ini kutulis, aku belum pernah tahu yang namanya Pak Win

Obrolan ini berlangsung di perpustakaan kampus saat teman saya mengembalikan buku. Sebenarnya yang saya tanyakan adalah ujian tadi (sebelum kami ngobrol ada ujian biokimia). Ngga nyangka, teman saya malah menjawab yang lain. Dua hari lalu dia baru saja ujian skripsi. Salah satu dosen pengujinya adalah Pak Win. Menurutnya, dalam bahasa saya, dia terhambat ngga bisa dapat nilai A karena dibantai oleh Pak Win.

Apa yang bisa saya dapat dari sini? Bahwa kenangan yang "sangat" (bisa baik atau buruk) dapat menguasai pikiran walau sudah berlangsung cukup lama. Akibatnya, ketika ditanya hal-hal yang sedikit nyrempet, bisa jadi jawabannya seputar kenangan tersebut.

October 24, 2008

Akankah Kami Dipertemukan Kembali

Filed under: Kisah dan Hikmah - nurv3 @ 4:25 pm

Salah seorang teman pernah berkata, "Berpisah dengan suami itu berat." Dia (yang bercerita itu) telah terbiasa hidup sendiri, tanpa kehadiran suami di sisinya. Ia masih muda, seorang ibu muda, sama seperti saya, hanya saja usianya setahun lebih tua dari saya. Dia ibu dari seorang anak, sama juga seperti saya. Hanya nasib kami yang sedikit berbeda. Suaminya kerja di Jakarta. Dari awal dia mengandung anak pertamanya, suaminya sudah mulai mencari kerja di luar Jawa. Hingga akhirnya sampai sekarang dapat pekerjaan barunya dan masih di Jakarta, sedang ia di Semarang dengan keluarganya. Pernah suatu ketika saya bertanya, "Kalau kangen dengan suami gimana mbak?" Dia menjawab, "Ya liat fotonya, telepon…" Wah, saya tidak bisa membayangkan, bagaimana beratnya berpisah dengan suami tercinta. Memang, teknologi dapat membuat jarak menjadi tak berarti. Namun rindu di hati, teknologi apa yang bisa mengobati? Tampaknya aku harus belajar untuk "berpisah". Perpisahan memang selalu terdengar menyakitkan. Aku tak mau membayangkannya. Namun Ayah Syifa pernah bilang, kenyataan biasanya tak seseram bayangan kita. Entahlah Yah, apakah Ummi bisa benar-benar meresapi nasihat yang sering Ayah berikan itu. Ummi cuma berharap Ayah akan baik-baik saja di mana pun Ayah berada. Semoga Ayah dan Yangti diberikan kemudahan menjalankan ibadah di Baitullah. Semoga Ayah diberi kemudahan dan kelancaran belajar di negeri kangguru nanti. Semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan keadaan yang lebih baik lagi. Amin. Love ya always.

October 20, 2008

Surat Seorang Ibu

Filed under: Kisah dan Hikmah - nurv3 @ 2:43 am

Surat ini benar-benar menyentuh hati saya. Saya telah menjadi seorang ibu, sehingga ketika membaca tulisan ini saya merasa trenyuh dan larut dalam suanan haru. Terbayang wajah ibu saya, yang telah melahirkan, mendidik, dan membesarkan dengan pebnuh kasih sayang. Ibu adalah yang terbaik bagiku. Tak pernah ada kata tidak untuk kami anak-anaknya ketika meminta sesuatu. Tak pernah ada kata-kata kasar dan bentakan bila ibu tak setuju atau jengkel pada tindakan kami. Semoga Allah membalas kebaikan ibu dengan pahala yang besar. Semoga Allah senantiasa membimbing dan memberi petunjuk kepada saya untuk selalu memperlakukan ibu dengan baik serta mengasihinya sebagaimana ibu mengasihi kami, anak-anaknya. Dan semoga kelak ketika anak-anak saya telah dewasa, mereka dapat membalas kasih sayang ibunya seperti ibunya dulu mengasihinya.

Robbigh firlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii soghiiroo

Assalamu’alaikum,

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin… (more…)

October 17, 2008

Menjadi yang Terbaik Di Posisi Masing-Masing

Filed under: Kisah dan Hikmah - nurv3 @ 7:20 pm

Be the Best in Our Position Pagi itu Jogja masih adem. Sebentar lagi matahari pasti akan menjalankan ritual hariannya, perlahan merangkak naik, menyebarkan energinya yang kemudian sampai ke bumi setelah tersaring oleh ozon, untuk berbagai keperluan makhluk hidup di bumi. Herannya, masih ada yang mengeluh, panas…

Seorang laki-laki di salah satu area, berpakaian putih khas seorang pengaman (baca: security) asyik menjalankan perannya. Bukan, ia tidak sedang berdiri tegap ala satpam-satpam di perusahaan-perusahaan besar. Ia asyik mengatur kendaraan yang ada di area parkir. Satu orang datang menaiki motor yang melaju mendekati area tersebut. Tangan laki-laki itu bergerak-gerak, seperti polisi pengatur lalu lintas di pinggir jalan raya, mengarahkan motor untuk melaju ke tempat yang kosong, sambil terus memperhatikan sekeliling. Sesekali mulutnya mengeluarkan perintah, menunjukkan area yang nyempil (mubadzir kalau tidak digunakan untuk parkir).

Sementara di sudut lain, seseorang dengan jabatan yang sama (warna seragamnya saja yang berbeda) sama-sama asyik, menunaikan tugasnya. Namun ia sedikit lebih santai. Dengan beberapa rekannya (lebih dari dua, dengan rekan ngobrol maksudnya) ia menjulurkan tangannya, memberikan kartu kepada motor yang melaju dan berhenti di samping meja, tepat di depan tempat duduknya. Dua buah kartu parkir kecil berlaminating, yang satu plus tali lengkap dengan nomor, yang wajib digantungkan di motor, dan yang satu dibawa oleh pemilik motor tersebut. Dari pagi hingga siang (mungkin ada yang sampai sore) kerjaannya hanya begitu saja.

Dengan jabatan sama, tentu saja hak yang didapat (baca: gaji) juga sama (dengan asumsi pribadi, sehingga apabila nanti ada kesalahan, mohon dikoreksi). Namun dua orang dalam kisah di atas menjalankan kewajibannya dengan sedikit berbeda. Yang satu mungkin akan bermandikan peluh dengan olah raga gratis yang ia tekuni dengan memindah-mindah motor dan mengaturnya hingga tampak rapi. Yang lain santai, sehingga baju seragamnya mungkin masih akan bau wangi setelah tiga hari dipakai (ngga keringetan sih). Lalu, apakah yang diterima oleh kedua orang tersebut sama? Tentu saja berbeda. Posisi dan gaji boleh sama, namun ada sesuatu yang akan didapat oleh pelaku pertama, dan tidak dengan pelaku kedua. Apa itu? Pelaku pertama menjalankan tugasnya dengan lebih baik. Ia berusaha menjadi yang terbaik di posisi yang ia tempati. Hal ini akan mendatangkan sebuah penghargaan bagi dirinya. Bukan penghargaan berupa materi, namun penghargaan batin. Dengan menjalankan tugasnya dengan baik, ia akan mendapatkan hasil yang baik pula. Ia akan hidup dengan tenang karena rezeki yang ia dapatkan halal, setimpal dengan kerja kerasnya. Ia pun tak merasa terbebani, karena melakukan pekerjaannya dengan senang hati. Pelaku kedua mungkin akan dapat materi saja, tidak akan mengecap kepuasan batin. Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk berbuat yang terbaik pada posisi kita masing-masing.

Terinspirasi oleh satpam di sebuah kampus di Jogja.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa