Bohong Pada Anak Sendiri
Semua orang pasti setuju dengan kalimat “Bohong itu dosa.” Tapi bila berbohong agar si kecil doyan makan, dosa tidak?
Pagi tadi Syifa makan dengan lahap. Seperti biasa, dan Syifa pun hafal, bila Ummi membawa selendang, itu artinya Syifa mau diajak beli bubur di warung sebelah, kemudian disuapin sambil melihat pemandangan di luar. Pagi itu pun demikian.
Syifa makan bubur lauk telor dengan lahap, lalu minum susu. Di depan rumah sudah menunggu kawan mainnya, Bagas. Si ibu menyuapi Bagas dengan nasi tim. Usia Bagas dua bulan lebih muda dari Syifa. Akhir-akhir ini Bagas tampaknya susah makan. Kira-kira setelah Bagas sakit muntaber beberapa waktu lalu.
Sambil duduk di bangku sepeda roda tiga dengan diikat bagian perutnya ke belakang agar tidak jatuh, Bagas menikmati makanannya. Namun baru beberapa suap saja, Bagas menolak makanannya. Lalu si ibu memberi Bagas minum menggunakan sendok. Setelah itu Bagas mau makan lagi. Sebentar kemudian, ia menolak suapan makanannya lagi. Si ibu lalu bilang “mimi mimi mimi”, katanya berbohong, karena yang disuapkan ke mulut Bagas bukan minuman, tapi sesendok nasi tim. Dengan begitu, Bagas membuka mulutnya. Namun sekian kali dibohongi, Bagas hafal juga, lalu tetap tidak mau menerima suapan makanannya. Barulah si ibu bilang, “Mimi tenan saiki…” (minum beneran sekarang) sambil memberikan air minum menggunakan sendok. Bagas pun minum. Si ibu bilang, “Wah wis ra iso diapusi.” (wah sudah tidak bisa dibohongi)
Kasihan si Bagas, dibohongi demi sesuap nasi.
