Cerita dari Ummu Syifa

September 4, 2008

Duh, Ayat-Ayat Cinta

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 3:26 am

Tiga tahun yang lalu saya pertama kalinya membaca novel ini. Novel baru yang “nyempal” dari sederetan novel yang pernah ada ini menurut saya sangat kental dengan nuansa religi. Pantas saja bila beberapa bulan langsung bisa naik cetak kedua serta terus bertambah penjualannya hingga menduduki posisi best seller.

Hasil penjualan yang tinggi mungkin bisa jadi salah satu faktor kesuksesan sebuah buku. Hal inilah yang kadang membuat orang lain jadi iri dan akhirnya meniru hal serupa. Sebagai contoh pada novel ini, beberapa saat setelah terbitnya Ayat-Ayat Cinta, puluhan buku dengan cover yang sama, yaitu seorang wanita muslimah bercadar, banyak menghiasi toko-toko buku. Judul bukunya pun hampir-hampir mirip, selalu ada kata “cinta”. Apakah memang sang penulis sengaja membuat tiruan karya Kang Abik atau memang penerbit buku tersebut ingin “mencoba” mengikuti kesuksesan novel tersebut dengan sengaja menampilkan cover yang mirip?

Wabah Ayat-Ayat Cinta ternyata tidak hanya menyerang dunia perbukuan saja, tetapi merambah ke dunia sinetron. Saya sangat menyayangkan maraknya sinetron-sinetron dengan tema cinta yang pelakunya berjilbab, bahkan ada satu sinetron baru yang menggunakan karakter wanita muslimah bercadar sebagai tokoh utamanya. Dalam satu adegan iklan sinetron baru tersebut, Syahrul Gunawan sebagai lawan dari tokoh wanita bercadar ditampilkan sedang berdialog dengan wanita tersebut. Dia mengatakan kurang lebih begini, “Wanita berjilbab haram hukumnya memandang mata laki-laki…”. Yang jadi ganjalan adalah kenapa si Arul itu hanya mengatakan wanita berjilbab saja? Lha yang ngga berjilbab apakah lantas boleh menatap mata lelaki seenaknya? Yang lebih disayangkan lagi adalah kenapa harus ada sinetron dengan tokoh wanita bercadar seperti yang digambarkan dalam sinetron tersebut. Lha wong bikin film Ayat-Ayat Cinta saja ngga becus (tokohnya banyak yang menyimpang dari yang diperankan, kisahnya jauh dari kesan Islam, dll) kok sekarang malah bikin tiruan yang lebih menggelikan.

Saya bukan mengatakan bahwa ini adalah dampak dari terbitnya novel tersebut, namun yang ingin saya tekankan adalah dunia perfilman/pertelevisian kita yang begitu bobroknya seperti sekarang. Saran saya (semoga orang perfilman membacanya), bikin saja film yang rasional, tenatang keluarga, tentang pendidikan, yang penting jangan tema cinta, apalagi yang “memojokkan” kaum muslim. Kalau terpaksa sangat ingin membuat sinetron Ramadhan, pakailah penasihat dari kalangan ulama yang benar-benar faham masalah agama. Jangan seenaknya sendiri bikin skenario yang kesalahannya fatal.

Saya jadi penasaran dengan audisi film KCB. Kita nantikan saja, seperti apa film Ketika Cinta Bertasbih yang ditulis oleh Kang Abik dengan audisi yang ia lakukan sendiri setelah kecewa dengan film Ayat-Ayat Cinta.

4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://nurv3.blogsome.com/2008/09/04/duh-ayat-ayat-cinta/trackback/

  1. ehm emang bener sih…
    setuju!!!!

    Comment by ulymh — October 10, 2008 @ 3:34 am

  2. Bagaimana kabar aisha sekarang? Apa sudah melahirkan? Apakah Aisha dan Fahri sudah baik ke Indonesia?

    Comment by mama ago — November 2, 2008 @ 11:22 am

  3. emamg cerita di film ma novelnya beda banget…
    j2r ja sempet kecewa…
    blik2 tapi emang kesempurnaan kan cuma milik Allah ta’ala

    Comment by ime — November 16, 2008 @ 11:08 am

  4. sAYA TIDAK SETUJU….FILM AYAT-AYAT CINTA…KARENA MASIH BERBAU SARAH….ADEGAN CIUMAN……PELAKUNYA ADALAH LAIN MUHRIM…..HARAM BILA BERKHOLWAT….APA LAGI BERJABAT TANGAN……MERENDAHKAN WANITA BERCADAR… TRIMS..

    Comment by AA — February 14, 2009 @ 10:14 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa