Cerita dari Ummu Syifa

September 28, 2008

Taat Minum Obat

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 2:11 am

Taat Minum ObatJika sakit, maka berobatlah. Jika minum obat, maka taatlah.

Ya, minum obat tentulah ada aturannya. Biasanya, obat-obat yang sering dikonsumsi memiliki aturan minum tiga kali sehari, pagi, siang dan sore. Untuk pagi hari, biasanya setalah makan pagi. Siang, setelah makan siang. Sore, menjelang tidur. Tapi seringkali jam makan tidak sama untuk setiap orang. Hati-hati lho, bisa jadi minum obat menjadi tidak taat aturan. Mengapa? Obat yang seharusnya dikonsumsi tiga kali sehari (yang berarti dikonsumsi setiap delapan jam) menjadi tertalu sering atau malah molor bila jam makan tidak teratur. Padahal obat memiliki waktu habis delapan jam (bila aturan minum tiga kali sehari). Jadi, bila konsumsi obat menjadi maju, maka obat tersebut akan menumpuk dalam ginjal. Bila mundur, maka bisa-bisa penyakitnya lama sembuh, karena yang seharusnya obat itu habis dan segera digantikan oleh obat baru (yang masuk ke tubuh), pada waktunya malah belum tersuplai. Jadi bagaimana sebaiknya bila minum obat? Salah satu dosen kimia saya menganjurkan (setelah berpengalaman menjalani pengobatan di luar negeri), minum obat tiga kali sehari adalah pagi hari jam empat, lalu siang jam 12, dan malam hari jam delapan. Nah, bagi yang selama ini tidak taat minum obat, bertobatlah dan ikuti petunjuk yang benar :)

September 25, 2008

Bohong Pada Anak Sendiri

Filed under: Syifa - nurv3 @ 8:06 am

Semua orang pasti setuju dengan kalimat “Bohong itu dosa.” Tapi bila berbohong agar si kecil doyan makan, dosa tidak?

Pagi tadi Syifa makan dengan lahap. Seperti biasa, dan Syifa pun hafal, bila Ummi membawa selendang, itu artinya Syifa mau diajak beli bubur di warung sebelah, kemudian disuapin sambil melihat pemandangan di luar. Pagi itu pun demikian.

Syifa makan bubur lauk telor dengan lahap, lalu minum susu. Di depan rumah sudah menunggu kawan mainnya, Bagas. Si ibu menyuapi Bagas dengan nasi tim. Usia Bagas dua bulan lebih muda dari Syifa. Akhir-akhir ini Bagas tampaknya susah makan. Kira-kira setelah Bagas sakit muntaber beberapa waktu lalu.

Sambil duduk di bangku sepeda roda tiga dengan diikat bagian perutnya ke belakang agar tidak jatuh, Bagas menikmati makanannya. Namun baru beberapa suap saja, Bagas menolak makanannya. Lalu si ibu memberi Bagas minum menggunakan sendok. Setelah itu Bagas mau makan lagi. Sebentar kemudian, ia menolak suapan makanannya lagi. Si ibu lalu bilang “mimi mimi mimi”, katanya berbohong, karena yang disuapkan ke mulut Bagas bukan minuman, tapi sesendok nasi tim. Dengan begitu, Bagas membuka mulutnya. Namun sekian kali dibohongi, Bagas hafal juga, lalu tetap tidak mau menerima suapan makanannya. Barulah si ibu bilang, “Mimi tenan saiki…” (minum beneran sekarang) sambil memberikan air minum menggunakan sendok. Bagas pun minum. Si ibu bilang, “Wah wis ra iso diapusi.” (wah sudah tidak bisa dibohongi)

Kasihan si Bagas, dibohongi demi sesuap nasi.

September 4, 2008

Duh, Ayat-Ayat Cinta

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 3:26 am

Tiga tahun yang lalu saya pertama kalinya membaca novel ini. Novel baru yang “nyempal” dari sederetan novel yang pernah ada ini menurut saya sangat kental dengan nuansa religi. Pantas saja bila beberapa bulan langsung bisa naik cetak kedua serta terus bertambah penjualannya hingga menduduki posisi best seller.

Hasil penjualan yang tinggi mungkin bisa jadi salah satu faktor kesuksesan sebuah buku. Hal inilah yang kadang membuat orang lain jadi iri dan akhirnya meniru hal serupa. Sebagai contoh pada novel ini, beberapa saat setelah terbitnya Ayat-Ayat Cinta, puluhan buku dengan cover yang sama, yaitu seorang wanita muslimah bercadar, banyak menghiasi toko-toko buku. Judul bukunya pun hampir-hampir mirip, selalu ada kata “cinta”. Apakah memang sang penulis sengaja membuat tiruan karya Kang Abik atau memang penerbit buku tersebut ingin “mencoba” mengikuti kesuksesan novel tersebut dengan sengaja menampilkan cover yang mirip?

Wabah Ayat-Ayat Cinta ternyata tidak hanya menyerang dunia perbukuan saja, tetapi merambah ke dunia sinetron. Saya sangat menyayangkan maraknya sinetron-sinetron dengan tema cinta yang pelakunya berjilbab, bahkan ada satu sinetron baru yang menggunakan karakter wanita muslimah bercadar sebagai tokoh utamanya. Dalam satu adegan iklan sinetron baru tersebut, Syahrul Gunawan sebagai lawan dari tokoh wanita bercadar ditampilkan sedang berdialog dengan wanita tersebut. Dia mengatakan kurang lebih begini, “Wanita berjilbab haram hukumnya memandang mata laki-laki…”. Yang jadi ganjalan adalah kenapa si Arul itu hanya mengatakan wanita berjilbab saja? Lha yang ngga berjilbab apakah lantas boleh menatap mata lelaki seenaknya? Yang lebih disayangkan lagi adalah kenapa harus ada sinetron dengan tokoh wanita bercadar seperti yang digambarkan dalam sinetron tersebut. Lha wong bikin film Ayat-Ayat Cinta saja ngga becus (tokohnya banyak yang menyimpang dari yang diperankan, kisahnya jauh dari kesan Islam, dll) kok sekarang malah bikin tiruan yang lebih menggelikan.

Saya bukan mengatakan bahwa ini adalah dampak dari terbitnya novel tersebut, namun yang ingin saya tekankan adalah dunia perfilman/pertelevisian kita yang begitu bobroknya seperti sekarang. Saran saya (semoga orang perfilman membacanya), bikin saja film yang rasional, tenatang keluarga, tentang pendidikan, yang penting jangan tema cinta, apalagi yang “memojokkan” kaum muslim. Kalau terpaksa sangat ingin membuat sinetron Ramadhan, pakailah penasihat dari kalangan ulama yang benar-benar faham masalah agama. Jangan seenaknya sendiri bikin skenario yang kesalahannya fatal.

Saya jadi penasaran dengan audisi film KCB. Kita nantikan saja, seperti apa film Ketika Cinta Bertasbih yang ditulis oleh Kang Abik dengan audisi yang ia lakukan sendiri setelah kecewa dengan film Ayat-Ayat Cinta.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa