Cerita dari Ummu Syifa

May 23, 2007

Kosong Lagi

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 3:55 am

Sudah biasa dan lumrah bila kuliah kosong mahasiswa senang. Tapi kalau tiap mata kuliah A kosong terus, apa ngga rugi?

Sekarang ini Jurusan Kimia baru disibukkan dengan satu acara besar yang katanya akan diadakan Kamis besok. International Conference of Chemistry Csience, begitu nama acaranya, telah membuat sebagian dosen dan juga mahasiswa menjadi super sibuk. Akibatnya beberapa mata kuliah yang diajarkan oleh Bapak atau Ibu dosen terpaksa “diliburkan”. Malah ada mata kuliah yang kosong sampai lebih dari enam sks. Untung saya tidak diajar oleh Bapak Dosen yang memegang mata kuliah tersebut. Kadang iri juga melihat teman pulang lebih awal, tapi lebih ngga sreg lagi kalau melihat dosen yang menerlantarkan mata kuliah. Mereka kan dibayar untuk itu. Dan mengajar adalah amanah pertama yang dia sanggupi. Harusnya kalau para dosen tahu amanah mengajar akan keteteran setelah mendapat amanah baru, ya sebaiknya amanah baru tersebut tidak diterima.

Kalau kuliah kosong terus yang rugi sebenarnya kan mahasiswanya juga? Dosen mah tetep dibayar… Lha ini, ironisnya kebanyakan mahasiswa justru seneng kalu mata kuliahnya kosong. Ck ck ck… Kalau kata Dosen Anorganikku “Astaghfirullah…” sambil mengelus dada :-D

May 4, 2007

Apa yang Mereka Cari?

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 4:26 am

Melihat jalanan sekarang sungguh menyebalkan kalau tak mau dibilang menyesakkan. Apa pasal? Karena yang tampak bersliweran adalah wanita. Kenapa wanita? Bukan, saya tak bermaksud menyalahkan. Tapi hanya perasaan jengkel saja, mungkin sedikit kasihan. Kasihan karena mungkin mereka tak mengerti. Kasihan karena mungkin mereka tak peduli, padahal itu menyangkut diri mereka sendiri.

Beberapa waktu lalu saya melihat seorang perempuan. Kulitnya kuning, rambutnya lurus (seperti habis direbounding, atau udah dari sononya). Yang pasti perempuan itu cantik. Badannya juga bagus meski sedikit mungil. Kalau mau dikata, singkatnya sebutan untuknya adalah perempuan yang menarik.

Melihat dari tampilan luarnya saja, bisa dilihat dia orang yang berada, berkecukupan. Kulihat dia di sebuah toko ponsel sedang melayani pembeli. Ia seorang karyawan di toko itu. Kepalanya manggut-manggut mengikuti alunan musik yang keluar dari speaker di meja komputer. Lagu barat. Tampaknya dia menikmatinya. Aku belum puas melihat tingkah perempuan ayu itu. Ya, kubandingkan dengan karyawan perempuan yang lain, memang dia yang paling imut. Kulanjutkan observasiku.

Kulihat dari ujung kepala hingga badan. Tak kulihat bagian kakinya karena tertutup meja panjang plus di depannya banyak pembeli. Yang jelas tampak adalah pakaian perempuan itu. Super ketat. Ukurannya juga kecil. Mungkin XS alias X-tra Small. Belum selesai kupandangi dia, seorang rekannya menjawil dari belakang. Lebih tepatnya mencolek punggung belakangnya, sambil sedikit mengangkat kaosnya. Kontan perempuan menoleh. Tetapi sambil tersenyum. Membetulkan kembali kaosnya yang sedikit terangkat. Percuma, saat ia mulai bergoyang (menikmati musik), kaos itu terangkat lagi. O alah…

Aku jadi teringat cerita nenekku beberapa waktu lalu. Saat itu nenek bercerita saat beliau lagi di pasar. Ada seorang perempuan berkaos ketat. Mirip dengan cerita perempuan karyawan toko tadi. Punggung bagian belakangnya kelihatan, karena kaosnya tertarik ke depan, saat sedang membeungkuk mengambil sesuatu, entah, barang dagangannya mungkin. Saat itu nenek dengan santai mencolek punggung perempuan itu, sambil berkata, “Mbiyen dek bayi digedhong, saiki kok diler.” Dulu waktu bayi digedhong (Jawa: dibungkus seluruh badan dengan kain), sekarang kok diperlihatkan. Yang di”jahilin” cuma tersenyum kecil. O alah…

Jaman memang sudah terbalik. Lihat saja tampilan para wanita. Minimalis banget dalam berpakaian. Sedangkan laki-laki sekarang? Sukanya pake kombor-kombor. Celana panjang berukuran besar dengan saku juga super besar. Cukup untuk mengantongi receh dengan jumlah banyak. Yang laki-laki sih masih menutup aurat (meski isbal). Tapi yang perempuan malah bangga dengan udel yang terbuka. Bener-bener terbalik kan?

Aku jadi suka bertanya-tanya sendiri. Sebenarnya apa sih yang mereka cari? Dengan pamer udel, apa sih yang mereka dapat? Sanjungan? Entah, mungkin sedikit dari mereka yang berkelakuan sama. Paling banter mungkin sindiran, seperti yang dilakukan nenekku. Lalu dengan body yang buka-bukaan itu, apa justru mereka tak merasa rugi? Ya, rugi. Tubuhnya sudah lebih dulu “dinikmati” banyak mata lelaki sebelum suaminya sendiri nanti. Kata-kata jahil, siulan-siulan dari pemuda yang kebetulan dia lewat di depannya juga seharusnya membuat mereka risih kan? Dan yang pasti, kalau mereka mengaku (mungkin) puas dengan segala yang dimilikinya (untuk kemudian dipertontonkan di hadapan siapa saja), lantas kepuasan apakah yang mereka dapat? Kepuasan batin? Entahlah, aku juga belum pernah mewawancarai yang bersangkutan secara langsung. Mungkin kalau saja ada kesempatan untuk interview dengan para pelaku, aku jadi bisa tahu, apa yang sebenarnya mereka cari dengan semua itu.

Apa yang sesungguhnya mereka cari? Entahlah, aku masih tak mengerti.

May 3, 2007

Sumbat Telinga dan Penutup Mata

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 4:56 am

Membaca buku-buku tentang kehamilan membuatku lebih banyak tahu. Informasi yang dulu tak pernah kubaca. Sekarang aku harus memaksakan diri untuk melek, sekedar membaca halaman per halaman. Sebagai persiapan menghadapi segala kemungkinan saat-saat hamil seperti sekarang ini.

Buku yang kupunya berjudul Kehamilan, Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan. Buku best seller hasil kolaborasi beberapa penulis asal luar negeri. Mulai dari merencanakan kehamilan, hingga persiapan melahirkan maupun yang harus dilakukan pasca melahirkan. Intinya, dalam sembilan bulan ulasan kehamilan di buku tersebut dibahas tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan dialami oleh seorang ibu hamil. Perubahan fisik, emosi, serta hal-hal lain yang sering dirasakan selama kehamilan. Bahkan gangguan-gangguan yang mungkin saja muncul.

Yang menarik dan sekaligus menjadi obat mujarab bagiku adalah nasihat-nasihat menggembirakan serta kata-kata menghibur yang disarankan oleh penulis atas curhat-curhat ibu hamil. Kebetulan ada satu kasus yang juga pernah kualami. Membuatku merasa harus berterima kasih kepada para penulisnya. Di antaranya, ada seorang ibu hamil yang merasa risih bahkan tak nyaman ketika perutnya yang membesar mulai diraba-raba temannya. Tentu saja, perut yang menggembung terlihat lucu kan? Membuat gemas mata-mata yang melihatnya. Tapi kalau sampai tidak minta ijin kepada pemilik perut? Mungkin saja membuat jengkel sebagian ibu hamil. Meskipun sebagian yang lain mungkin senang (merasa diperhatikan sih…). Atau cerita dari ibu hamil lain. Tentang teman-temannya yang suka membandingkan dirinya dengan ibu hamil yang lain.

“Perut si A udah gedhe lho, kamu kok ngga keliatan?” Atau “Eh, kamu naik berapa kilo sih? Kok kayaknya malah tambah kurus. Mbakku aja naik 15 kilo waktu hamil.”

Terserah donk. Perut-perut gue sendiri. Berat gue yang mbawa. Enteng juga gue yang ngerasain bukan elu. Sabar… sabar…

Memang banyak orang yang tidak tahu tentang seluk beluk kehamilan. Banyak yang karena mendengar mitos ini itu, jadi rasanya janggal kalau tidak begini atau tidak begitu. Misalnya, ibu hamil sudah selayaknya gemuk. Tapi kan belum tentu setiap ibu hamil memiliki kenaikan berat badan yang sama. Banyak variabel yang menentukan, dari diet selama hamil, dari nutrisi yang masuk dalam makanan yang dikonsumsi, juga dari genetik. Kalau dasarnya emang ngga bisa gemuk, mo gimana lagi? Toh ibu hamil yang tampak gemuk belum tentu bayi yang dikandung juga ikutan gemuk lho. (Aku juga baru tahu dari membaca buku itu).

Akhirnya aku menemukan kuncinya. Selain nasihat yang sering mangkal di telinga (kalau merasa ngga seneng saat diomongin orang), Anjing menggonggong kafilah berlalu, juga kutemukan solusi baru. Bukan solusi dalam arti sebenarnya, tentu saja. Nasihat yang kutemukan di tengah deretan huruf dalam buku bersampul cokelat itu, begini bunyinya Selain di depan para dokter, tampaknya ibu hamil perlu dilengkapi dengan sumbat telinga dan penutup mata. Hmm… cukup bagus kedengarannya. Dan aku pun tampaknya harus mencoba “memakai” dua barang ampuh tersebut saat menghadapi “dunia luar”. :-)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa