Melihat jalanan sekarang sungguh menyebalkan kalau tak mau dibilang menyesakkan. Apa pasal? Karena yang tampak bersliweran adalah wanita. Kenapa wanita? Bukan, saya tak bermaksud menyalahkan. Tapi hanya perasaan jengkel saja, mungkin sedikit kasihan. Kasihan karena mungkin mereka tak mengerti. Kasihan karena mungkin mereka tak peduli, padahal itu menyangkut diri mereka sendiri.
Beberapa waktu lalu saya melihat seorang perempuan. Kulitnya kuning, rambutnya lurus (seperti habis direbounding, atau udah dari sononya). Yang pasti perempuan itu cantik. Badannya juga bagus meski sedikit mungil. Kalau mau dikata, singkatnya sebutan untuknya adalah perempuan yang menarik.
Melihat dari tampilan luarnya saja, bisa dilihat dia orang yang berada, berkecukupan. Kulihat dia di sebuah toko ponsel sedang melayani pembeli. Ia seorang karyawan di toko itu. Kepalanya manggut-manggut mengikuti alunan musik yang keluar dari speaker di meja komputer. Lagu barat. Tampaknya dia menikmatinya. Aku belum puas melihat tingkah perempuan ayu itu. Ya, kubandingkan dengan karyawan perempuan yang lain, memang dia yang paling imut. Kulanjutkan observasiku.
Kulihat dari ujung kepala hingga badan. Tak kulihat bagian kakinya karena tertutup meja panjang plus di depannya banyak pembeli. Yang jelas tampak adalah pakaian perempuan itu. Super ketat. Ukurannya juga kecil. Mungkin XS alias X-tra Small. Belum selesai kupandangi dia, seorang rekannya menjawil dari belakang. Lebih tepatnya mencolek punggung belakangnya, sambil sedikit mengangkat kaosnya. Kontan perempuan menoleh. Tetapi sambil tersenyum. Membetulkan kembali kaosnya yang sedikit terangkat. Percuma, saat ia mulai bergoyang (menikmati musik), kaos itu terangkat lagi. O alah…
Aku jadi teringat cerita nenekku beberapa waktu lalu. Saat itu nenek bercerita saat beliau lagi di pasar. Ada seorang perempuan berkaos ketat. Mirip dengan cerita perempuan karyawan toko tadi. Punggung bagian belakangnya kelihatan, karena kaosnya tertarik ke depan, saat sedang membeungkuk mengambil sesuatu, entah, barang dagangannya mungkin. Saat itu nenek dengan santai mencolek punggung perempuan itu, sambil berkata, “Mbiyen dek bayi digedhong, saiki kok diler.” Dulu waktu bayi digedhong (Jawa: dibungkus seluruh badan dengan kain), sekarang kok diperlihatkan. Yang di”jahilin” cuma tersenyum kecil. O alah…
Jaman memang sudah terbalik. Lihat saja tampilan para wanita. Minimalis banget dalam berpakaian. Sedangkan laki-laki sekarang? Sukanya pake kombor-kombor. Celana panjang berukuran besar dengan saku juga super besar. Cukup untuk mengantongi receh dengan jumlah banyak. Yang laki-laki sih masih menutup aurat (meski isbal). Tapi yang perempuan malah bangga dengan udel yang terbuka. Bener-bener terbalik kan?
Aku jadi suka bertanya-tanya sendiri. Sebenarnya apa sih yang mereka cari? Dengan pamer udel, apa sih yang mereka dapat? Sanjungan? Entah, mungkin sedikit dari mereka yang berkelakuan sama. Paling banter mungkin sindiran, seperti yang dilakukan nenekku. Lalu dengan body yang buka-bukaan itu, apa justru mereka tak merasa rugi? Ya, rugi. Tubuhnya sudah lebih dulu “dinikmati” banyak mata lelaki sebelum suaminya sendiri nanti. Kata-kata jahil, siulan-siulan dari pemuda yang kebetulan dia lewat di depannya juga seharusnya membuat mereka risih kan? Dan yang pasti, kalau mereka mengaku (mungkin) puas dengan segala yang dimilikinya (untuk kemudian dipertontonkan di hadapan siapa saja), lantas kepuasan apakah yang mereka dapat? Kepuasan batin? Entahlah, aku juga belum pernah mewawancarai yang bersangkutan secara langsung. Mungkin kalau saja ada kesempatan untuk interview dengan para pelaku, aku jadi bisa tahu, apa yang sebenarnya mereka cari dengan semua itu.
Apa yang sesungguhnya mereka cari? Entahlah, aku masih tak mengerti.