Kisah Mantan Orang Terkuat di Indonesia
Saya sih ngga begitu suka soal politik. Tapi kalau pas liat berita, jadi pingin berpendapat. Kemarin lagi rame-ramenya stasiun TV menyorot mantan orang nomor satu, alias Pak Suharto. Sehabis menghadiri pernikahan Gendis, cucunya, dan karena saat itu beliau terlihat sehat, maka ada seseorang (ngga tau siapa) yang mengusulkan untuk melanjutkan proses persidangan beliau. Namun beberapa waktu kemudian, beliau harus masuk rumah sakit, menjalani operasi, entah operasi usus atau apa, saya ngga begitu tau. Tapi alhamdulillah operasi berjalan lancar, dan kesehatan Pak Harto pun dinyatakan kian membaik.
Tak semua orang ternyata punya keinginan sama untuk segera merampungkan kasus Pak Harto yang memang dari dulu ngga pernah selesai. Ada yang karena alasan kemanusiaan meminta agar proses peradilan Pak Harto dihentikan saja. Ya, mungkin karena kasihan, sudah tua. Bahkan pernyataan itu juga didukung oleh wakil presiden kita, JK.
Kalau saya sih, sekedar berpendapat aja. Yang namanya kesalahan di dunia, seharusnya memang dihukum sesuai dengan peraturan yang telah disepakati. Kalau kita hidup di Indonesia, misalnya, kalau nyolong ayam dihukum tiga bulan atau lebih parahnya digebukin, maka yang korupsi jutaan bahkan ratusan juta rupiah juga harusnya dihukum dengan setimpal, ngga memandang apakah orang yang melanggar itu berapa usianya, setua apa, bahkan kalau dia sudah jompo. Itu kalau nyata-nyata bersalah. Dan kalau pun di dunia ini ngga terbukti, ngga usah khawatir, soalnya rekaman di akhirat nanti ngga bakal bohong. Dan semua kesalahan pasti ada hukumannya. Kalau kasus Suharto? Lagi-lagi saya bukan analis politik, jadi ngga tau juga, gimana kebenaran berita Suharto itu. Yang saya tau, dulu Suharto didemo gara-gara kebanyakan makan duit rakyat.
Yang jelas, dan yang harus ditekankan untuk bangsa kita, bangsa yang begitu memprihatinkan ini, adalah agar ngga terulang lagi kasus-kasus Suharto Suharto lain di kemudian hari. Piye carane? Mungkin satu kata saja yang penting plus menjadi seruan untuk kita semua. I’diluu…
