Cerita dari Ummu Syifa

April 27, 2006

Sentimen

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 2:57 am

Jalan itu milik umum, maka sebagai pemakai jalan haruslah menghargai pengguna jalan lainnya. Kalau makenya biayaan alias ngga nurut aturan, bisa digebugin yang laen, ato minimal kena damprat.

Entah, mimpi apa aku semalem. Perasaan aku ngga punya musuh, kok tadi pas di jalan kayak ada orang yang “nyari perkara”. Pertama keliatan pas di jembatan lempuyangan. Aku nikung kanan, dia ikut nikung, malah nyalib dari arah kiri. Meski ngga gitu berbahaya, tapi aturan nyalib dari kiri itu setahuku dilarang. Kalau kepepet sih, gapapa :-D

Pas lurus, kepalanya nengok-nengok ke spion. Huh, mana jalannya belok-belok lagi, bukannya su’udzon, tapi emang kayaknya dia sengaja mengahalangi jalanku. “Hm.. mo maen-maen nih?” Pas ada kesempatan aku nyalib dia. Ee… dia ngga mau kalah… Gantian dia nyalib motorku. Kali ini dia di depan. Dan matanya masih… aja nglirik ke spion. Pas di deket Umbangtirta, dia ambil jalan ke sebelah kiri mobil, mau nikung ke kiri. Aku ambil jalan sebelah kanan, aku nikung ke kiri juga. Sampai di samping SMU 3, dia ngilang.

Trus lurus, eh tiba-tiba dia udah ada di kiriku. Motornya diperlambat, seperti memberiku kesempatan untuk nyalib. OK, aku salib aja. Ngga tahunya pas di kiri ada kesempatan, dia nyalib lagi, sekarang ada di depanku. Matanya sesekali nglirik ke spion, trus memperlambat laju motornya lagi. “Rhrhrhr…..maunya apa sih ni orang?”

Pas di sebelah kanan agak kosong, aku salib lagi. “Mo maen-maen lagi?” Ups, kebetulan pas di depan ada lampu merah, terpaksa berhenti. Jujur aja, pengendara tadi bikin geram. Liat aja, sampe kapan mo maen “salib-saliban” kayak gini. Kulihat spion, dia ngga keliatan. Hm… aman… Mungkin dia udah nikung tadi. Ngga liat orang lagi keburu apa? Malah ngerjain. “Dasar semtimen!”

April 18, 2006

An Nur 26 : “Like Dissolve Like”

Filed under: Belajar, Kisah dan Hikmah - nurv3 @ 6:38 am

Memang menyenangkan belajar bersama dosen yang lucu. Bukan sembarang lucu, tapi sekaligus mengandung makna. Kok bisa? Bisa aja. Seorang dosen bercerita tentang jodoh. Dulu, semasa belum mengajar, ia oleh teman-temannya dijuluki "trouble maker". Salah satu ulahnya adalah menjodohkan teman laki-lakinya yang disebut "ikhwan", dengan teman "akhwat"nya. Singkat cerita, dengan bumbu-bumbu "rahasia", kedua teman itu (baik yang ikhwan maupun akhwat) sama-sama GR alias Gede Rasa. Yang ikhwan dibilangin kalo akhwatnya suka sama dia, trus sebaliknya. Giliran di depan ikhwan, ia bilang kalau si mbak itu suka dengan masnya. Yah, namanya juga cari pahala, modal buat dapet rumah di surga. Begitu kan balasan orang-orang yang jadi "mak comblang"? :-) Pak Dosen melanjutkan dengan membaca salah satu ayat di surat An Nur yang mengatakan bahwa wanita-wanita keji untuklaki-laki yang keji, dan sebaliknya, laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji. Laki-laki yang baik untuk wanita-wanita baik, dan wanita-wanita baik juga hanya untuk laki-laki yang baik. Kata beliau melanjutkan, kalau di kimia, prinsip ini sesuai dengan prinsip like dissolve like. Mungkin hanya anak-anak kimia saja yang tahu, atau anak prodi lain yang kebetulan suka dengan bahsan ini kemudian mencari tahu di buku-buku kimia. Like dissolve like mengatakan bahwa suatu zat yang polar akan larut dalam pelarut polar, dan sebaliknya suatu zat yang nonpolar juga hanya bisa terlarut dengan pelarut nonpolar saja. Dosen mengaitkannya dengan ayat tadi. Bahwa laki-laki yang baik ya jodohnya pastilah perempuan yang baik. Trus kalau laki-laki kurang baik pasti dapetnya juga yang seperti dia. Lalu dia bertanya sendiri, bagamana denga kasus laki-lakinya ustadz, tapi dapat wanita yang ngga baik? Ya mungkin saja dengan begitu, Allah hendak mengubah/memperbaiki akhlak wanita tadi melalui si lelaki. Makanya, beliau bilang, kalau ingin dapat jodoh yang baik ya musti memperbaiki diri. Hmpf… memang menyenangkan kuliah dengan Pak Dosen yang satu ini. Sayang, soal-soal MID yang keluar ngga se-asyik "dakwah" beliau di kelas :-(

April 1, 2006

Hujan Terus…

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 4:28 am

Udah awal bulan April kok masih sering hujan ya? Padahal dulu di SD diajari ibu/bapak guru mata pelajaran IPS. Mereka bilang (dan murid-murid harus hafal) bahwa musim hujan di Indonesia berlangsung bulan Oktober hingga Maret. Jadi, mulai April hingga September (seharusnya) sudah musim panas lagi. Sekarang sepertinya musim sudah berubah, dan hafalan masa SD itu udah ngga berlaku lagi.

Ngomong-ngomong tentang perubahan musim, ada satu yang kuingat. Salah satu mata kuliah yang kuambil semester ini, kimia lingkungan membahas tentang grrenhouse effect. Kalau dikaitkan dengan itu, maka perubahan musim sekarang ini pun juga merupakan salah satu dampak dari efek rumah kaca tersebut. Entah bagaimana hubungan jelasnya, tapi dosen kami mengatakan begitu. Efek rumah kaca terjadi karena lapisan ozon rusak atau ada yang menyebut ozon sudah bolong. Akibatnya sinar matahari yang diserap dan yang dipantulkan kembali akan mempunyai persentase yang berbeda. Ketika masuk mungkin 100 % dan keluar sudah tidak sebanyak itu lagi, karena sinar tersebut berinteraksi dengan komponen senyawa-senyawa kimia yang ada di lapisan stratosfer. Makanya, sinar yang dipantulkan itu akan sedikit berkurang, mungkin menjadi 75 % saja, atau mungkin 59%, mungkin bisa jadi malah tinggal 10% saja yang terpantul kembali. Akibatnya, mirip seperti rumah kaca, keadaan di permukaan bumi ini (bawah lapisan stratosfer) menjadi panas, alias terjadi peningkatan suhu. Pemanasan yang terlalu lama ini nantinya akan menimbulkan apa yang dinamakan global warming atau pemanasan global. Dampaknya akan lebih mengerikan, es di kutub mencair sehingga sebagian daratan di bumi ini akan tenggelam. Dampak yang lain ya ini, adanya perubahan iklim. Mau ngga mau ngefek juga sama perubahan musim. Dan alhasil seperti yang sekarang ini terjadi, musim hujan ngga lagi manut (menurut) dengan pelajaran IPS saat SD dulu, yaitu terjadi bulan Oktober hingga Maret. Mungkin sampai Juni nanti atau bahkan Oktober lagi, masih sering terjadi hujan.

Kapan hujannya berhenti ya? Memandang ke luar jendela SIC

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa