<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Benci Puisi</title>
	<link>http://nurv3.blogsome.com/2006/02/27/benci-puisi/</link>
	<description>Tentang Syifa dan Dunia</description>
	<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 02:48:25 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: Juniar HWL</title>
		<link>http://nurv3.blogsome.com/2006/02/27/benci-puisi/#comment-91</link>
		<pubDate>Sat, 01 Apr 2006 05:01:49 +0100</pubDate>
		<guid>http://nurv3.blogsome.com/2006/02/27/benci-puisi/#comment-91</guid>
					<description>Boleh kasih komentar? Kalau Anda menulis atau membaca sesuatu dan menurut 
Anda itu puisi, ya itu puisi. Apapun kata teman Anda. 
Seperti halnya lukisan, puisi tentunya ada juga yang keindahannya terlihat jelas, 
ada yang tersembunyi di balik goresan-goresan yang terlihat/terdengar indah namun 
tidak langsung menciptakan kesan di hati, dan ada yang saking tersembunyinya  di 
dalam coretan-coretan tanpa arti membuat orang pusing dan bukan merasa nyaman.
Dan seperti lukisan yang dibuat anak-anak, yang keindahannya diperkuat oleh 
kepolosannya, demikian juga puisi karya anak-anak. Orang dewasa, yang mulai atau 
sudah kehilangan kepolosannya, mencari keindahan puisi pada kepelikan arti -- 
karena orang dewasa hobinya pusing sendiri :-).
Jadi, tidak ada yang salah dengan puisi yang menuruti kata hati penulisnya, dewasa 
ataupun anak-anak. Predikat 'sederhana' dan 'polos', atau bahkan 'dangkal', itu 
ciptaan orang dewasa. 
Kalau dijadikan bahan perlombaan atau sayembara, memang lain lagi. Tahu kenapa?
Karena jurinya orang dewasa yang suka pusing sendiri!</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Boleh kasih komentar? Kalau Anda menulis atau membaca sesuatu dan menurut<br />
Anda itu puisi, ya itu puisi. Apapun kata teman Anda.<br />
Seperti halnya lukisan, puisi tentunya ada juga yang keindahannya terlihat jelas,<br />
ada yang tersembunyi di balik goresan-goresan yang terlihat/terdengar indah namun<br />
tidak langsung menciptakan kesan di hati, dan ada yang saking tersembunyinya  di<br />
dalam coretan-coretan tanpa arti membuat orang pusing dan bukan merasa nyaman.<br />
Dan seperti lukisan yang dibuat anak-anak, yang keindahannya diperkuat oleh<br />
kepolosannya, demikian juga puisi karya anak-anak. Orang dewasa, yang mulai atau<br />
sudah kehilangan kepolosannya, mencari keindahan puisi pada kepelikan arti &#8212;<br />
karena orang dewasa hobinya pusing sendiri <img src='http://nurv3.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> .<br />
Jadi, tidak ada yang salah dengan puisi yang menuruti kata hati penulisnya, dewasa<br />
ataupun anak-anak. Predikat &#8217;sederhana&#8217; dan &#8216;polos&#8217;, atau bahkan &#8216;dangkal&#8217;, itu<br />
ciptaan orang dewasa.<br />
Kalau dijadikan bahan perlombaan atau sayembara, memang lain lagi. Tahu kenapa?<br />
Karena jurinya orang dewasa yang suka pusing sendiri!</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: AL KIFAH</title>
		<link>http://nurv3.blogsome.com/2006/02/27/benci-puisi/#comment-82</link>
		<pubDate>Fri, 03 Mar 2006 09:19:11 +0000</pubDate>
		<guid>http://nurv3.blogsome.com/2006/02/27/benci-puisi/#comment-82</guid>
					<description>Saya juga sering kebingungan dalam menyelami makna atau muatan pesan yang terkandung dalam sebuah puisi. Namun, menurut saya, justeru di sanalah letak keunikan dari sebuah puisi itu. 

Kalau kita mengkaji kedalaman sebuah ungkapan, terkadang ada kalanya suatu pesan malah bernilai 'lebih' lho ketika itu diungkapkan secara abstrak ketimbang terungkap dalam nuansa bahasa real. Percaya gak?

Untuk itu, saya juga berpandangan bahwa terkadang bahasa abstrak itu  memang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia. Lantas saya juga pernah berfikir; sekiranya Allah swt. tidak memberikan kelebihan bagi manusia (karena manusia mampu memahami bahasa abstrak) dalam mengolah kata, tentu ungkap-bahasa kan terasa hampa. 

Namun sungguh itu memang tidak terjadi.  Subhanallah.., bahkan al-Qur'an sendiri sering menggunakan bahasa abstrak dalam menyapa dan menggugah jiwa manusia. 

Ukhti, menurut saya, bahasa sastra maupun bahasa abstrak itu tak perlu dibenci. Serasa kering 'kehidupan' ini jika kita tak pernah peroleh (menikmati) bahasa abstrak dari lingkungan kita.

Terkadang bahasa abstrak itu menjadi sebuah kebutuhan lho... Coba perhatikan, tidakkah kita sadar bahwa seorang suami itu adalah sangat ingin mendengar ungkapan-ungkapan bahasa abstrak dari sang isteri? Begitu pula-menurut saya- bagi seorang isteri. 'Sehebat' apapun wanita pasti jua ingin mendengar bahasa abstrak dari orang-orang yang dicintainya. Ini hanya permisalan lho agar kita tidak salah dalam menempatkannya.

Huhh..., saya mah.. bisanya cuma mengomentari. Karena sampai sekarang saya hanya bisa menikamati karya-karya sastra itu. Kapan ya bisa seperti mereka? :(</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Saya juga sering kebingungan dalam menyelami makna atau muatan pesan yang terkandung dalam sebuah puisi. Namun, menurut saya, justeru di sanalah letak keunikan dari sebuah puisi itu. </p>
	<p>Kalau kita mengkaji kedalaman sebuah ungkapan, terkadang ada kalanya suatu pesan malah bernilai &#8216;lebih&#8217; lho ketika itu diungkapkan secara abstrak ketimbang terungkap dalam nuansa bahasa real. Percaya gak?</p>
	<p>Untuk itu, saya juga berpandangan bahwa terkadang bahasa abstrak itu  memang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia. Lantas saya juga pernah berfikir; sekiranya Allah swt. tidak memberikan kelebihan bagi manusia (karena manusia mampu memahami bahasa abstrak) dalam mengolah kata, tentu ungkap-bahasa kan terasa hampa. </p>
	<p>Namun sungguh itu memang tidak terjadi.  Subhanallah.., bahkan al-Qur&#8217;an sendiri sering menggunakan bahasa abstrak dalam menyapa dan menggugah jiwa manusia. </p>
	<p>Ukhti, menurut saya, bahasa sastra maupun bahasa abstrak itu tak perlu dibenci. Serasa kering &#8216;kehidupan&#8217; ini jika kita tak pernah peroleh (menikmati) bahasa abstrak dari lingkungan kita.</p>
	<p>Terkadang bahasa abstrak itu menjadi sebuah kebutuhan lho&#8230; Coba perhatikan, tidakkah kita sadar bahwa seorang suami itu adalah sangat ingin mendengar ungkapan-ungkapan bahasa abstrak dari sang isteri? Begitu pula-menurut saya- bagi seorang isteri. &#8216;Sehebat&#8217; apapun wanita pasti jua ingin mendengar bahasa abstrak dari orang-orang yang dicintainya. Ini hanya permisalan lho agar kita tidak salah dalam menempatkannya.</p>
	<p>Huhh&#8230;, saya mah.. bisanya cuma mengomentari. Karena sampai sekarang saya hanya bisa menikamati karya-karya sastra itu. Kapan ya bisa seperti mereka? <img src='http://nurv3.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Imponk</title>
		<link>http://nurv3.blogsome.com/2006/02/27/benci-puisi/#comment-81</link>
		<pubDate>Tue, 28 Feb 2006 20:45:37 +0000</pubDate>
		<guid>http://nurv3.blogsome.com/2006/02/27/benci-puisi/#comment-81</guid>
					<description>Ada sebuah cerita. Namun saya lupa 
detailnya.

Suatu hari rusa berjalan-jalan dan menemukan buah anggur. Dia lihat buahnya dari bawah terlihat ranum dan segar. &quot;Kelihatanya enak,&quot; katanya bergumam. 

Tapi apa mau dikata, buah itu tidak bisa ia capai karena tingginya. Ia sudah berusaha sekuat tenaga namun tiada kunjung berhasil. Kemudian ia menyerah dan berkata, &quot;buah anggur rasanya pahit!&quot; 

:)</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Ada sebuah cerita. Namun saya lupa<br />
detailnya.</p>
	<p>Suatu hari rusa berjalan-jalan dan menemukan buah anggur. Dia lihat buahnya dari bawah terlihat ranum dan segar. &#8220;Kelihatanya enak,&#8221; katanya bergumam. </p>
	<p>Tapi apa mau dikata, buah itu tidak bisa ia capai karena tingginya. Ia sudah berusaha sekuat tenaga namun tiada kunjung berhasil. Kemudian ia menyerah dan berkata, &#8220;buah anggur rasanya pahit!&#8221; </p>
	<p>:)</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
