Cerita dari Ummu Syifa

February 27, 2006

Benci Puisi

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 4:33 am

Bingung ketika membaca sebuah puisi yang banyak kata-kata bermakna ganda. Kadang sangat sulit ditafsirkan. Puisi orang-orang dewasa memang butuh ekstra “tenaga” untuk bisa memahaminya. Kenapa saya bilang puisi orang “dewasa”? Karena jika puisi itu ditulis oleh anak kecil, masih relatif mudah dipahami, karena kata-kata yang digunakan masih sederhana dan tidak bermakna ganda.

Saya suka menulis bait-bait (yang mirip) puisi. Dan ketika ada salah seorang teman yang bilang “ngga dong”, saya jadi berpikir bahwa bait-bait tersebut ngga berguna. Bukankah yang berguna itu ketika kita menyampaikan dan seseorang bisa memahami apa yang kita inginkan? (kalo salah dikoreksi). Dan sesuatu menjadi mudah disampaikan ketika ia tidak berbelit-belit, dan yang pasti mudah dimengerti.

Ah, saya jadi benci puisi…

3 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://nurv3.blogsome.com/2006/02/27/benci-puisi/trackback/

  1. Ada sebuah cerita. Namun saya lupa
    detailnya.

    Suatu hari rusa berjalan-jalan dan menemukan buah anggur. Dia lihat buahnya dari bawah terlihat ranum dan segar. “Kelihatanya enak,” katanya bergumam.

    Tapi apa mau dikata, buah itu tidak bisa ia capai karena tingginya. Ia sudah berusaha sekuat tenaga namun tiada kunjung berhasil. Kemudian ia menyerah dan berkata, “buah anggur rasanya pahit!”

    :)

    Comment by Imponk — February 28, 2006 @ 8:45 pm

  2. Saya juga sering kebingungan dalam menyelami makna atau muatan pesan yang terkandung dalam sebuah puisi. Namun, menurut saya, justeru di sanalah letak keunikan dari sebuah puisi itu.

    Kalau kita mengkaji kedalaman sebuah ungkapan, terkadang ada kalanya suatu pesan malah bernilai ‘lebih’ lho ketika itu diungkapkan secara abstrak ketimbang terungkap dalam nuansa bahasa real. Percaya gak?

    Untuk itu, saya juga berpandangan bahwa terkadang bahasa abstrak itu memang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia. Lantas saya juga pernah berfikir; sekiranya Allah swt. tidak memberikan kelebihan bagi manusia (karena manusia mampu memahami bahasa abstrak) dalam mengolah kata, tentu ungkap-bahasa kan terasa hampa.

    Namun sungguh itu memang tidak terjadi. Subhanallah.., bahkan al-Qur’an sendiri sering menggunakan bahasa abstrak dalam menyapa dan menggugah jiwa manusia.

    Ukhti, menurut saya, bahasa sastra maupun bahasa abstrak itu tak perlu dibenci. Serasa kering ‘kehidupan’ ini jika kita tak pernah peroleh (menikmati) bahasa abstrak dari lingkungan kita.

    Terkadang bahasa abstrak itu menjadi sebuah kebutuhan lho… Coba perhatikan, tidakkah kita sadar bahwa seorang suami itu adalah sangat ingin mendengar ungkapan-ungkapan bahasa abstrak dari sang isteri? Begitu pula-menurut saya- bagi seorang isteri. ‘Sehebat’ apapun wanita pasti jua ingin mendengar bahasa abstrak dari orang-orang yang dicintainya. Ini hanya permisalan lho agar kita tidak salah dalam menempatkannya.

    Huhh…, saya mah.. bisanya cuma mengomentari. Karena sampai sekarang saya hanya bisa menikamati karya-karya sastra itu. Kapan ya bisa seperti mereka? :(

    Comment by AL KIFAH — March 3, 2006 @ 9:19 am

  3. Boleh kasih komentar? Kalau Anda menulis atau membaca sesuatu dan menurut
    Anda itu puisi, ya itu puisi. Apapun kata teman Anda.
    Seperti halnya lukisan, puisi tentunya ada juga yang keindahannya terlihat jelas,
    ada yang tersembunyi di balik goresan-goresan yang terlihat/terdengar indah namun
    tidak langsung menciptakan kesan di hati, dan ada yang saking tersembunyinya di
    dalam coretan-coretan tanpa arti membuat orang pusing dan bukan merasa nyaman.
    Dan seperti lukisan yang dibuat anak-anak, yang keindahannya diperkuat oleh
    kepolosannya, demikian juga puisi karya anak-anak. Orang dewasa, yang mulai atau
    sudah kehilangan kepolosannya, mencari keindahan puisi pada kepelikan arti —
    karena orang dewasa hobinya pusing sendiri :-) .
    Jadi, tidak ada yang salah dengan puisi yang menuruti kata hati penulisnya, dewasa
    ataupun anak-anak. Predikat ’sederhana’ dan ‘polos’, atau bahkan ‘dangkal’, itu
    ciptaan orang dewasa.
    Kalau dijadikan bahan perlombaan atau sayembara, memang lain lagi. Tahu kenapa?
    Karena jurinya orang dewasa yang suka pusing sendiri!

    Comment by Juniar HWL — April 1, 2006 @ 5:01 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa