Ketika Merasa Beda
Mungkin banyak yang bilang “Be Yourself” itu adalah yang terbaik untuk banar-benar menumbuhkan suatu sikap PD alias percaya diri. Tapi ngga semuanya setuju dengan itu. O ya, beberapa waktu lalu ada seseorang yang memberiku semangat dengan bilang “Be the Best of You” Lalu dia meneruskan, “Jangan cuma Be Yourself.”
Hm…menarik.
Ada kalanya aku merasa seperti kamu dan juga yang lain. Yang jelas “seperti” itu bisa dimaknai dari beberapa segi atau sudut pandang. Dari segi aqidah jelas, aku dan mereka (temen2 muslim) sama. Dari segi studi (dengan teman2 seangkatan) sama juga. Lalu, dari segi gender (dengan teman-teman wanita) sama. Yang beda? Tentu lebih banyak. Dan pada keadaan tertentu aku merasa beda dengan mereka.
Yang jelas, aku beda karena aku bukan mereka. Aku beda karena aku berpikir dengan cara yang berbeda dengan mereka. Aku beda karena memang pada hakikatnya setiap jiwa itu berbeda.
Be Yourself seakan menjadi sesuatu yang mustahil. Karena kita manusia, kita tak mungkin selamanya menjadi seperti pada keadaan kita sekarang. Kita tetap makhluk yang berubah. Entahlah, mungkin terlepas dari makna “be” itu sendiri, yang jelas manusia tak bisa terus menjadi dirinya sendiri. Susah mengungkapkannya…
Terlintas sebuah hadits (yang katanya dhoif), kurang lebih bilang bahwa kalau hari ini sama dengan kemarin, berarti merugi. Kalau hari ini lebih buruk berarti celaka. Seorang ustadz bilang, itu ngga benar. Ok-lah, mungkin ada kebaikan yang diambil dari kalimat itu bahwa seseorang akan terpacu untuk be better, menjadi lebih baik dari hari ke hari. Tapi (kata ustadz) manusia itu ngga ada yang statis. Ini karena iman yang ada dalam diri manusia itu juga ngga selamanya berada pada keadaan yang sama. Iman itu bisa naik, dan bisa turun. Itulah mengapa manusia tidak mungkin untuk selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Ketika merasa beda, ini kumaknai sebagai keadaan saat aku merasa keimananku turun. Aku melihat sekitarku bersemangat, melakukan apa saja. Yah, yang jelas sesuatu yang berguna. Dan aku? Aku ngga bisa seperti mereka. Aku masih diam dan diam. Hh… “Futur kali”. Ada yang berpendapat begitu. Dan memang, futur membuatku merasa beda.
Ketika aku merasa beda, kadang jarak antara aku dan mereka begitu jauh. Walau pun mungkin kadang kami ada dalam sebuah tempat, tapi aku merasa tidak sedang berada di sana. Kami, terpisah sangat jauh. Dan beda, membuatku bertanya, apakah aku sedang menjadi diriku sendiri?
