Pernah menemui kalimat itu kan? Kalau aku menemukannya di bagian bawah lembaran buku merek sinar dunia.
“Kamu tidak akan pernah tau sampai kamu mencoba.”
Ada kalanya kalimat ini benar. Tapi kayaknya ngga bagus kalau cuma diresapi secara mentahnya saja.
“Kamu ngga akan tahu, sampai kamu mencoba. ”
Menurutku, tanpa mencoba pun kita bisa tahu lho. Contoh yang paling gampang, narkoba. Kita ngga harus mencoba untuk tahu bahayanya kan? Di media cetak, media elektronik telah sepakat menggemborkan kalimat “Say No To Drugs”, atau “Stay Away From Drugs.” atau “Jauhi narkoba”, dll.
Untuk kasus semacam itu, memang kalimat di atas ngga berlaku. Tapi gimana dengan hal-hal lainnya? Banyak yang bilang jangan begini, jangan begitu, nanti begini, nanti begitu. Contoh nih ya, di kepalaku langsung melintas gambaran seorang anak kecil sedang membawa korek api. Ibunya bilang, “Jangan nak, nanti tanganmu terbakar.” Menurut sebagian orang, mungkin tindakan ibu benar, karena bagaimana pun juga sang ibu tidak akan mau anaknya nanti terbakar kalau menyalakan korek api. Tapi bagi sebagian yang lain, mereka belum tentu sepakat dengan tindakan sang ibu. Mereka bilang, -entah siapa pun mereka- sang ibu tidak mendidik sang anak dengan berkata begitu. Baiknya nih, -kata mereka- ibu tinggal mengawasi sang anak saja. Jika nanti situasinya masih aman-aman saja, biarkan anak menyalakan korek api. Sekali lagi, hanya pengawasan sang ibu yang penting. Bukan larangan langsung. Ketika sang anak sudah tahu sendiri bahayanya, secara otomatis dia akan menjauhinya. Dan itu lebih baik daripada anak hanya menuruti sang ibu, kemudian rasa penasaran membuatnya mengulangi hal serupa ketika sang ibu lalai mengawasinya.