Segala yang Berawal Baik Akan Berakhir Baik
Ternyata kalimat dalam judul di atas tidak hanya sebuah pepatah semata. Dan memang benar adanya. Bahwa segala sesuatu yang dimulai dengan kebaikan, maka akan berakhir dengan kebaikan pula. Dan sebaliknya, bila awalnya sudah buruk, maka akhirnya pun akan selalu buruk.
Entah mengapa, pikiran saya selalu teringat akan sebuah fenomena yang saat ini marak terjadi. Ngga di kota, ngga di desa. Sepertinya MBA (Married By Accident) alias “Nikah Karena Kecelakaan” memang telah menjadi “trend” di kalangan anak muda zaman sekarang.
Miris bila melihat kenyataan itu justru banyak terjadi di lingkungan saya sendiri. Padahal lingkungan di tempat tinggal saya bukanlah sebuah kota metropolis. Tidak, lingkungan saya adalah sebuah desa, benar-benar masih dusun. Ah, sungguh tak pernah terduga.
Beberapa kali saya dengar obrolan khas ibu-ibu, membicarakan si Anu yang hamil sebelum nikah. Atau si Anu yang kawin muda karena mengahamili Fulanah. Atau si Anu yang belum lama nikah ternyata beberapa bulan (tak sampai 9 bulan) kemudian telah melahirkan seorang anak.
Saya membaca buku “Ada Apa dengan Wanita” karangan Ust. Jefri Al- Bukhori yang banyak menyoroti tentang fenomena remaja yang mengerikan itu. Entah apa yang menyebabkan mereka (kaum muda) begitu mudahnya menggadaikan kehidupannya, masa mudanya, untuk sebuah hal yang sebetulnya hanya menyengsarakan diri sendiri, bahkan keluarganya. Betapa tidak, hanya karena nafsu sesaat, semua jadi korban. Anak menanggung malu karena perutnya yang makin lama makin membesar, juga orang tuanya yang lebih malu lagi kepada para tetangga karena dinilai tidak becus mendidik anak. Padahal mungkin saja, orang tua tak kurang-kurangnya mewanti-wanti, memberi nasihat si buah hati untuk tidak mendekati perbuatan zina yang akan membuat malu orang tuanya. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Sang buah hati terlena, terpedaya bisikan serta angan-angan kosong yang dibangkitkan sang iblis, dan akhirnya terjadilah perbuatan zina itu. Lalu sang pemuda? Ia pun mesti rela mengakhiri masa lajangnya dengan terpaksa, juga akibat perbuatannya. Ia tak mampu mengelak, karena si orang tua wanita juga mendesaknya agar segera mengawininya. Bila perlu secepatnya, bahkan sembunyi-sembunyi agar tak ketahuan tetangga.
Hhmf…. sungguh menyedihkan. Anak seharusnya menjaga martabat kedua orang tuanya, dan bukannya membuat malu. Anak seharusnya menjadi kebanggaan orang tua, dan bukan malah menginjak-injak harga diri orang tuanya. Kalau sudah kejadian, buntut-buntutnya adalah penyesalan. Awal yang buruk, maka buahnya juga akan buruk. Dan mungkin persoalan juga tidak akan sampai di situ saja. Dampak yang serius akan ada pada sang buah hati yang terlahir nanti. Cap sebagai anak haram yang selalu terlontar, selalu terngiang di telinganya. Padahal anak haram itu tidak ada. Yang ada hanyalah perbuatan orang tuanya yang haram. Na’uudzubillaahi mindzaalik.
