Ketika saya bertanya pada teman, apa makna sebuah kemerdekaan, jawabannya kira-kira adalah kemerdekaan menuntut untuk menjadi lebih baik. Lalu ada lagi yang bilang, bangsa kita harus lebih bisa mengurus diri sendiri.
Pernah ada seorang teman yang bertanya, “17an ada acara apa di tempatmu?”. Saya bingung mo jawab apa. Soalnya di kampung kelihatannya sepi-sepi saja, ngga ada perayaan apa pun. “Mungkin panjat tebing eh pinang.” jawabku asal. Yah, karena memang menjelang 17an yang terlihat hanya bapak-bapak yang sibuk ngecat pagar! (bapakku juga ngga mau ketinggalan
) Lainnya paling masang bendera merah putih. Ya, hanya itu.
Tadi pagi saya mendengar seorang DJ radio, berkata “Merdeka, bukan hanya kata.” Kemudian dia menyuarakan kata hatinya tentang sebuah kemerdekaan. “Kita harus mengisi kemerdekaan yang sudah diraih. Bla bla bla…” Sampai akhirnya dia menutup dengan sebuah pertanyaan, “Dengan apa kita mengisi kemerdekaan?”
Ya, dengan apa sih kita mengisi kemerdekaan? Bener juga kata seorang teman, meskipun kita merdeka, tapi ideologi kita tengah terjajah. Jadi mungkin tepatnya bukan mengisi dengan berbagai macam lomba panjat pinang ato balap karung, tapi mengisinya dengan kegiatan yang jelas. Contohnya apa ya? Em…jadi inget Aa’ Gym… Mulai diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai sekarang. Ya,masing-masing orang pasti punya cara sendiri-sendiri untuk mengisi kemerdekaan ini. Yang jelas, asal bermanfaat aja.
Mungkin perlu dikobarkan lagi semangat juang generasi muda bangsa. Miris juga kalo denger cerita teman saya waktu chatting tadi. Seorang temannya mengadakan penelitian kepada beberapa siswa kelas 4-6 SD. Ketika ditanya apa cita-cita mereka, jawabannya bukannya dokter atau guru. Tapi apa coba? Pingin jadi artis, penyanyi, dll. Akhirnya, mau tidak mau pasti kita menyalahkan acara-acara TV yang berbau “instant”.
Bagaimana pun, media itu sangat berpengaruh, terlebih bagi mental anak-anak, yang notabene menjadi generasi penerus bangsa. Nah kalau medianya saja sudah kehilangan semangat juang, bagaimana dengan konsumennya? Jadi menurut saya, perubahan mesti dilakukan mulai dari media yang jadi konsumsi publik dulu. Kalau 17an hanya menayangkan film-film atau tayangan yang sekedar menghibur tapi tidak mendidik, itu sama saja.
Jauh di lubuk hati, saya pun sedang bertanya apa makna kemerdekaan yang hakiki?