Cerita dari Ummu Syifa

August 29, 2005

Sakit? Pura-pura Ya?

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 4:37 am

Hehe.. saya tertarik dengan kata-kata temen saya di buku pesen. Emang sakit bisa pura-pura? Oh, iya, dia benar. Orang bisa pura-pura sakit, bener. Tapi saya sedang tidak pura-pura loh. Dan dua hari dua malam plus dua botol infus cukup membuat saya sadar, ternyata sehat benar-benar mahal harganya.

Terlepas dari sakit dan pura-pura, saya menemukan sebuah kalimat yang dulu sempat saya ragui maknanya. Sebuah kata, ukhuwwah. Ya, ternyata ukhuwwah benar-benar indah.. Indahnya ukhuwwah terlihat dari wajah-wajah ramah itu, senyum-senyum yang ikhlas tatkala bertatapan denganku. Sungguh, saya ingin berterima kasih kepada teman-teman semua. Kalian begitu baik. Terima kasih. :-)

August 19, 2005

Dia Masih Seperti Dulu

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 5:04 am

Kemarin dia datang dengan abinya, katanya pingin main ke rumah. Hm… dia masih seperti dulu. Enam tahun lalu dia ikut keluarganya, pindah. Yang paling sedih tentu saja simbah. Yah, namanya juga anak, kalau pergi jauh, apalagi ke seberang pulau, sang ibu pastilah sedih sekali. Dan kemarin simbah bisa merasakan kebahagiaan tak terkira, saat anaknya datang bersama cucunya.

Namanya Faris. Dia cucu yang ke berapa ya? Aduh, saking banyaknya cucu simbah, jadi lupa. Yang jelas, dia masih seperti dulu. Yang berbeda paling kulitnya, tambeh item. Tapi masih selugu dulu, masih pendiam seperti dulu. Apalagi waktu main ke rumah, sedikit…sekali bicaranya. Dia datang, katanya ingin sekolah di Jogja. Mau tidak mau dia harus berpisah dengan abi dan uminya. Sekarang dia tinggal di rumah simbah. Dan abinya harus pulang ke tempat tinggalnya yang sekarang, kembali bersama uminya dan adik-adiknya yang lain.

Faris sekarang ngga bisa ngomong jawa. Mungkin terbiasa bicara dengan bahasa Indonesia di rumahnya dulu. Ditambah lagi, frekuensi ngomongnya jadi cepet! Wah, pokoknya sudah ngga keliatan logat Jawanya. Memang kalau mendengar bahasa Jawa dia ngerti, tapi untuk ngomong kayaknya susah.

Buat Faris, rajin belajar ya, biar abi sama umi seneng. :-)

August 16, 2005

Kemerdekaan, Apa Maknanya?

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 6:19 am

Ketika saya bertanya pada teman, apa makna sebuah kemerdekaan, jawabannya kira-kira adalah kemerdekaan menuntut untuk menjadi lebih baik. Lalu ada lagi yang bilang, bangsa kita harus lebih bisa mengurus diri sendiri.

Pernah ada seorang teman yang bertanya, “17an ada acara apa di tempatmu?”. Saya bingung mo jawab apa. Soalnya di kampung kelihatannya sepi-sepi saja, ngga ada perayaan apa pun. “Mungkin panjat tebing eh pinang.” jawabku asal. Yah, karena memang menjelang 17an yang terlihat hanya bapak-bapak yang sibuk ngecat pagar! (bapakku juga ngga mau ketinggalan :-D ) Lainnya paling masang bendera merah putih. Ya, hanya itu.

Tadi pagi saya mendengar seorang DJ radio, berkata “Merdeka, bukan hanya kata.” Kemudian dia menyuarakan kata hatinya tentang sebuah kemerdekaan. “Kita harus mengisi kemerdekaan yang sudah diraih. Bla bla bla…” Sampai akhirnya dia menutup dengan sebuah pertanyaan, “Dengan apa kita mengisi kemerdekaan?”

Ya, dengan apa sih kita mengisi kemerdekaan? Bener juga kata seorang teman, meskipun kita merdeka, tapi ideologi kita tengah terjajah. Jadi mungkin tepatnya bukan mengisi dengan berbagai macam lomba panjat pinang ato balap karung, tapi mengisinya dengan kegiatan yang jelas. Contohnya apa ya? Em…jadi inget Aa’ Gym… Mulai diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai sekarang. Ya,masing-masing orang pasti punya cara sendiri-sendiri untuk mengisi kemerdekaan ini. Yang jelas, asal bermanfaat aja.

Mungkin perlu dikobarkan lagi semangat juang generasi muda bangsa. Miris juga kalo denger cerita teman saya waktu chatting tadi. Seorang temannya mengadakan penelitian kepada beberapa siswa kelas 4-6 SD. Ketika ditanya apa cita-cita mereka, jawabannya bukannya dokter atau guru. Tapi apa coba? Pingin jadi artis, penyanyi, dll. Akhirnya, mau tidak mau pasti kita menyalahkan acara-acara TV yang berbau “instant”.

Bagaimana pun, media itu sangat berpengaruh, terlebih bagi mental anak-anak, yang notabene menjadi generasi penerus bangsa. Nah kalau medianya saja sudah kehilangan semangat juang, bagaimana dengan konsumennya? Jadi menurut saya, perubahan mesti dilakukan mulai dari media yang jadi konsumsi publik dulu. Kalau 17an hanya menayangkan film-film atau tayangan yang sekedar menghibur tapi tidak mendidik, itu sama saja.

Jauh di lubuk hati, saya pun sedang bertanya apa makna kemerdekaan yang hakiki?

August 12, 2005

Kebenaran Haruskah Selalu Diungkapkan?

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 4:44 am

“Katakan kebenaran walau itu pahit.” Ya, selama ini memang begitu. Tapi sepertinya itu tidak mutlak. Dan saya akhir-akhir ini mengungkapkan pandangan lain saya tentang sebuah kebenaran.

Kebenaran memang harus diungkapkan, tapi tidak selamanya begitu. Kalau dengan diungkapkannya kebenaran akan menimbulkan madhorot yang lebih banyak maka sebaiknya disimpan saja (tidak usah diungkapkan). Madhorot yang saya maksud, mungkin dengan perkataan itu lantas seseorang menjadi marah, atau tersinggung.

Kebenaran yang seperti apa yang dicegah untuk diungkapkan? Misalnya, kita berjumpa dengan seorang yang kita benci. Nah, otomatis kita tidak akan mengatakan kalau kita membencinya kan? (Kita tidak akan mengungkapkan kebenaran). Itu contoh paling mudah. Contoh yang lain, mungkin saat kita bertemu dengan seorang yang menurut kita punya punya “kelainan”. Yah, apalah namanya. Otomatis kita juga tak akan mengungkapkan sebuah kebenaran dengan bertanya, “Eh, kamu punya kelainan ini ya?” Atau yang lainnya yang membuatnya tersinggung.

Kebenaran memang harus dikatakan, pada kondisi dan situasi yang tepat, bukan untuk menimbulkan madhorot yang lebih besar.

August 10, 2005

Selamat Jalan

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 6:27 am

Selamat Jalan Pak Deedat Hidayatullah.com

Kristolog terkemuka dunia, Sheikh Ahmad Deedat berpulang ke rahmatullah hari Senin (8/8) kemarin di usia 87 tahun. Kristolog kelahiran 1918 ini telah 60 tahun berdakwah dan menerbitkan jutaan kopi buku perbandingan agama.

Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’un..

Ngga tahu kenapa, saya ngerasa “melek” begitu melihat beberapa VCD debat beliau dengan beberapa uskup yang diselenggarakan di luar negeri. Yang pernah saya lihat judulnya “Is Jesus God?” lalu “Was Christ Crucified”. Seru kalau melihat perdebatan itu dari awal sampai akhir. Herannya, Pak Deedat ini selalu saja punya jurus untuk menjawab argumen-argumen sang uskup. Dan ajaibnya lagi, selalu ada senyum di wajah beliau.

Sedih juga, mengingat sekarang susah nyari orang-orang dengan ghiroh sehebat beliau. Tentu saja ghiroh yang didasari dengan ilmu. Dan saya terus terang ngga tahu siapa penerus beliau yang akan “meladeni” debat-debat para uskup.

Buat Pak Deedat, Selamat Jalan menuju tempat yang indah di sisiNya.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa