Yang Paling Kamu Senangi…
Judul ini, kata seorang teman saya, seperti pertanyaan psikologis. Beberapa waktu lalu saya bertanya kepadanya “Apa yang paling kamu senangi dalam hidup ini?” Dan dia menjawab -kalau boleh dibilang- spontan. “Kalau saya pingin makan, dan kebetulan ada duit saya beli makanan dan saya senang.” (karena kenyang_red).
Lalu saya tanya lagi, “Yang lebih ekstrim?” Saya bertanya begitu karena saya pikir jawaban yang lebih “bagus” pasti ada.
Dia pun menjawab dengan kata-kata yang panjang yang intinya memang hal yang benar-benar menyenangkan. Sampai saya pun sempat dibuatnya untuk berimajinasi.
Hal yang paling menyenangkan, katanya membahagiakan orang tua, dapat IP tinggi, dsb. Sengaja tidak saya kutip untuk uraian selanjutnya, sensitif!
OK, setiap orang pasti punya sesuatu yang membuatnya senang, minimal bisa tersenyum ketika melihat atau pun menemui hal itu. O ya, pertanyaan yang sama pernah saya lontarkan kepada teman saya, namanya (kalau tidak salah) Anne. Dia perempuan asal negara lain yang kebetulan belajar di SMU saya untuk pertukaran pelajar.
“What’s the thing you like most is your life?” Terlepas dari benar atau tidak Inggris saya, yang jelas saya hanya ingin bertanya hal apa yang paling dia senangi dalam hidupnya.
Dia lalu menjawab dengan cepat, “friend.” Wow, ternyata jawabannya sama sekali tak terduga. Saya kira dia akan menjawab yang lain, uang, mobil, atau harta benda yang lain. Ternyata jawabannya teman. Wah, salut juga dengan jawabannya. Bagaimana tidak, hanya teman! Teman membuatnya bahagia. Ketika bertemu dengan teman, itulah saat-saat membahagiakan seumur hidupnya. Dan mungkin sebaliknya, ketika kehilangan teman, itulah saat-saat menyekitkan seumur hidupnya.
Sepertinya jawaban itu membuat suasana lain dalam hati saya. Hal-hal yang menurut saya sepele, ternyata justru menuntut kita untuk lebih “melihatnya” lagi. Teman, kadang tanpa saya sadari, saya sangat membutuhkannya. Dan benar saja, saya sering merasa kesepian kalau melihat bangku sebelah saya kosong padahal bel masuk sudah berbunyi (dulu waktu masih sekolah). Sekarang pun rasanya begitu. Saat belum saya temui sosok yang saya anggap teman, saya merasa ada yang kurang. Ya, karena teman adalaha bagian dari apa yang saya senangi. Seperti Anne.
