Tentang Cinta
Membuat novel itu ternyata sulit ya? Saya baru latihan membuat cerita panjang, inginnya sih mengambil cerita yang mirip dengan novel-novel keren yang pernah saya baca. Tapi benar-benar sulit. Setelah mencapai beberapa lembar, cerita putus di tengah jalan. Mau diterusin kok ngga ada ide. “Kalau ngga ada ide, jangan dipaksakan, coba jalan-jalan keluar atau pergi ke toko buku.” Hehe, itu nasihat kawan jauh saya saat saya bilang ngga bisa ngelanjutin ceritanya karena lagi buntu.
Kalau saya lihat -bukan saya amati, karena saya bukan pengamat
- novel-novel yang laris itu yang ceritanya tidak jauh-jauh dari cinta. Sering mikir juga, kenapa cinta menjadi satu hal yang menarik untuk dibicarakan. Bahkan novel yang sama -tentang cinta- akan selalu bisa menyuguhkan sesuatu yang berbeda, padahal intinya sama, tentang cinta.
Tak hanya novel saja saya kira, lagu-lagu yang laris pun pasti liriknya tentang cinta. Ya, ambil contoh saja lagunya Dewa. maklum, saya hafalnya cuma lagu-lagu Dhani saja. Soalnya kakak saya punya beberapa albumnya. Coba kita list judul-judul lagunya, “Pangeran Cinta”, “Cemburu”, “Atas Nama Cinta”, “Cinta adalah Misteri”, “Lagu Cinta”, “Mistikus Cinta”, “Cinta Gila”, dan lagu-lagu lain yang isinya sama, membicarakan cinta.
Pernah saya ngobrol dengan seorang teman tentang cinta. Dan sepertinya kalau bicara tentang cinta, semua orang langsung bisa nyambung. Entah karena mereka terlalu peka atau karena memang topik cinta ini sedemikian menarik sehingga tak perlu “memancing” terlau jauh, lawan bicara kita sudah langsung konek.
“5 huruf itu bikin emosi ya?” “Iya, se7.” “Apa emangnya? sok teu.” “Kalau bahasa Inggris jadi 4 huruf kan?”
Nah kan, tak perlu disebut, semua setuju kalau 5 eh 4 huruf -dalam bahasa Inggris- itu memang bikin emosi. Emosi seperti apa itu? Entahlah saya sendiri juga ragu menafsirkannya. Tapi setidaknya 5 huruf itu memang memicu emosi saya, emosi untuk mengutarakannya di sini, karena saya belum bisa mengutarakannya dalam sebuah cerita panjang.
