Yang Benar Itu…
Ini bukan nasihat, bukan pula petuah. Ini adalah sebuah kebingungan Kebingungan akan sebuah kebenaran
Aku melangkah dan aku salah, aku menjamah dan aku resah aku berjalan tapi tak tentu arah
Sebuah kebenaran, aku rindu Sebuah paradigma yang berbeda Lain dari paradigma yang selama ini terpatri di memoriku Orang bilang itu salah, aku tak tahu Saat ada yang merasa dirugikan, baru aku mencoba untuk menyadari kekeliruanku
Kebenaran menurut versiku, boleh jadi beda Kebenaran itu ada di hati Nurani yang membentuknya menjadi ada Nurani yang membuatnya menjadi lebih mempesona Karena kutahu, ia tak pernah bohong Karena nurani sempurna Sempurna yang dikaruniakan oleh Sang Maha Sempurna

Adakah kebenaran dihati?
Bila hati resah, kebenarankah resah?
Bila hati gundah, kebenarankah gundah?
Bila hati kelam, kebenarankah kelam?
Karena aku berjalan dengan hatiku
Aku melihat dengan hatiku
Aku berimaji dengan hatiku
Tapi ternyata aku salah…
Hati tak suci
Hati mudah terkotori
Hati kadang menafi
Robbighfirli….
Comment by Si hitam — July 8, 2005 @ 4:13 am
Adakah kebenaran dihati?
Bila hati gundah, kebenarankah gundah?
Bila hati resah, kebenarankah resah?
Bila hati kelam, kebenarankah kelam?
Karena kuberjalan dengan hati…
melihat dengan hati
berimaji dengan hati
Tapi ternyata ku salah
Ku pun mencari yang haqqi
Tapi mungkin bukan dihati
Ku yakin satu hal pasti
Al-Haq pada dijalan illahi
Comment by si hitam — July 8, 2005 @ 4:21 am
Adakah kebenaran dihati?
Bila hati gundah, kebenarankah gundah?
Bila hati resah, kebenarankah resah?
Bila hati kelam, kebenarankah kelam?
Karena kuberjalan dengan hati…
melihat dengan hati
berimaji dengan hati
Tapi ternyata ku salah
Ku pun mencari yang haqqi
Tapi mungkin bukan dihati
Ku yakin satu hal pasti
Al-Haq pada dijalan illahi
Comment by si_hitam — July 8, 2005 @ 4:22 am
Adakah kebenaran dihati?
Bila hati gundah, kebenarankah gundah?
Bila hati resah, kebenarankah resah?
Bila hati kelam, kebenarankah kelam?
Karena kuberjalan dengan hati…
melihat dengan hati
berimaji dengan hati
Tapi ternyata ku salah
Ku pun mencari yang haqqi
Tapi mungkin bukan dihati
Ku yakin satu hal pasti
Al-Haq pada dijalan illahi
Comment by si_hitam — July 8, 2005 @ 4:26 am
Adakah kebenaran dihati?
Bila hati gundah, kebenarankah gundah?
Bila hati resah, kebenarankah resah?
Bila hati kelam, kebenarankah kelam?
Karena kuberjalan dengan hati…
melihat dengan hati
berimaji dengan hati
Tapi ternyata ku salah
Ku pun mencari yang haqqi
Tapi mungkin bukan dihati
Ku yakin satu hal pasti
Al-Haq pada dijalan illahi
Comment by aswad — July 8, 2005 @ 4:31 am
Memang kebenaran itu lawan dari kesalahan…
Namun kebenaran bukanlah untuk dibingungkan…..
Apalagi resah di setiap langkah..
Bukankah celaka menapaki hidup tanpa arah..?
Tak salah, kebenaran itu membuncahkan kerinduan yang terpatri dalam setiap hamparan harapan..
Ia perlu diusahakan bahkan harus selalu ditata agar tumbuh subur dalam setiap pilihan bijak hidup kita..
Sebab, itulah kebenaran…
Yang setiap orang meng-idamkan..
Tak usah membingungkan teorema-teorema kebenaran..
Jangan pula terjebak dengan konsepsi kebenaran yang relatif..
Bermula dari pemikiran, nurani, hati atau persepsi..??
Mana yang benar..??
Yang jelas, kebenaran bagi kita adalah kebaikan…
Dan pastilah kebaikan bagi kita adalah keridhoan Tuhan, Allah Swt..
Itulah konsekuensi atas balutan iman yang menjadi pedoman dalam menapaki hidup…
Mari berupaya agar selalu berada dalam jalur ridho-Nya…
Sebab, HIDUP hanya sementara yang setelah itu MATI…
Comment by AL-KIFAH — July 8, 2005 @ 1:09 pm
Memang kebenaran itu lawan dari kesalahan…
Namun kebenaran bukanlah untuk dibingungkan…..
Apalagi resah di setiap langkah..
Bukankah celaka menapaki hidup tanpa arah..?
Tak salah, kebenaran itu membuncahkan kerinduan yang terpatri dalam setiap hamparan harapan..
Ia perlu diusahakan bahkan harus selalu ditata agar tumbuh subur dalam setiap pilihan bijak hidup kita..
Sebab, itulah kebenaran…
Yang setiap orang meng-idamkan..
Tak usah membingungkan teorema-teorema kebenaran..
Jangan pula terjebak dengan konsepsi kebenaran yang relatif..
Bermula dari pemikiran, nurani, hati atau persepsi..??
Mana yang benar..??
Yang jelas, kebenaran bagi kita adalah kebaikan…
Dan pastilah kebaikan bagi kita adalah keridhoan Tuhan, Allah Swt..
Itulah konsekuensi atas balutan iman yang menjadi pedoman dalam menapaki hidup…
Mari berupaya agar selalu berada dalam jalur ridho-Nya…
Sebab, HIDUP hanya sementara yang setelah itu MATI…
Comment by AL-KIFAH — July 8, 2005 @ 1:10 pm
kebenaran itu tidak ada, yang ada hanyalah klaim kebenaran. sebagaimana tatasurya yang mengelilingi matahari, apakah itu juga merupakan kebenaran itu sendiri? kita tidak pernah melihatnya diluar tata surya untuk membuktikannya tetapi kita mengakui bahwa hal itu benar adanya. kenapa? ya karena klaim kebenaran itu. karena tidak ada teori yang lebih sahih yang dapat menggantikan klaim ini. dulu, ketika seorang ilmuwan membuat pernyataan bahwa bumilah yang menjadi pusat, semua mengakuinya.. yang kemudian dibantah secara ilmiyah bahwa bumi bukan pusat, melainkan mataharilah yang merupakan pusat tata surya. hehehe.. komennya asli ngelantur
contekan lagi dari rubrik dibalik buku koran nasional :p
Comment by Imponk — July 11, 2005 @ 11:55 am
Umat Islam, hanya menjadikan syariat-Nya sebagai pedoman, petunjuk dan standard kebenaran. Keyakinan ini merupakan konsekuensi konkrit atas tersemainya balutan keimanan dan aqidah yang mantap di hati mereka. Paradigma inilah yang membedakan antara Islam dengan yang lain.
Saya sering mendengar sebagaimana ‘teori’ yang disampaikan mas Imponk di atas. Teori ini acap kali diadopsi oleh mereka yang menganut konsepsi relativitas kebenaran. Bagi mereka kebenaran itu tidak ada. Yang ada hanyalah klaim kebenaran. Dengan kata lain, mereka beranggapan bahwa tak ada kebenaran ‘mutlak’.
Berkaitan dengan dinafikannya kebenaran mutlak, saya tidak berkesefahaman dengan pendapat ini. Contoh-contoh yang diusung sebagaimana gerakan relatif (seperti contoh gerakan relatif materi jagad raya) tidaklah relevan dengan menganologikannya dengan konsep kebenaran. Sebab, kebenaran tetaplah kebenaran yang dapat dibuktikan. Kita boleh percaya pada suatu klaim kebenaran dengan catatan bahwa standardisasi dalam menjustisifikasi kebenaran itu mestilah suatu standard yang sejak awal sudah diterima keabsahannya. Sehingga dari pedoman itu ketika sesuatu dikatakannya buruk, maka secara otomatis kita akan mengatakan itu adalah buruk. Begitupula mana kala pedoman itu mengatakan sesuatu itu benar, maka pasti kita akan mengatakan pula bahwa sesuatu itu adalah kebenaran.
Jadi, menurut saya, kebenaran tetaplah kebenaran (bukan sekedar klaim) yang kesemuanya itu bermuara pada sebuah pedoman. Dan dasar dari seluruh pedoman itu adalah aqidah yang memancarkan pemahaman.
Begitu pula dalam berperilaku. Perilaku manusia sesungguhnya didasarkan atas pemahamannya tentang kehidupan. Ia katakan sesuatu itu baik, karena sebelumnya ia telah memiliki informasi tentang kriteria kebaikan dan apa yang dikatakan dengan keburukan.
Yang jelas, kebenaran bagi kita adalah sesuatu yang selaras dengan keridhoan Tuhan.. Sedangkan keburukan bagi kita adalah apa-apa yang menjadi kemurkaan Tuhan, Allah swt..
Itulah konsekuensi atas balutan iman yang menjadi pedoman dalam menapaki hidup…
Mari berupaya agar selalu berada dalam jalur ridho-Nya…
Sebab, HIDUP hanya sementara yang setelah itu adalah MATI…
Wallahua’lam…
Comment by Frenky Suseno Manik — July 12, 2005 @ 4:52 am
9# saya tidak mengartikan kebenaran di sini sebagai alhaqq. kebenaran dalam artian di atas merupakan lensa di mana kita melihat. lagian tidak ada pembahasan tentang itu.
Comment by Imponk — July 12, 2005 @ 7:13 am
he he he bisa untuk tugas analisis kebenaran nich, thanks
Comment by ela — January 27, 2007 @ 9:47 am