Cerita dari Ummu Syifa

July 7, 2005

Yang Benar Itu…

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 8:10 am

Ini bukan nasihat, bukan pula petuah. Ini adalah sebuah kebingungan Kebingungan akan sebuah kebenaran

Aku melangkah dan aku salah, aku menjamah dan aku resah aku berjalan tapi tak tentu arah

Sebuah kebenaran, aku rindu Sebuah paradigma yang berbeda Lain dari paradigma yang selama ini terpatri di memoriku Orang bilang itu salah, aku tak tahu Saat ada yang merasa dirugikan, baru aku mencoba untuk menyadari kekeliruanku

Kebenaran menurut versiku, boleh jadi beda Kebenaran itu ada di hati Nurani yang membentuknya menjadi ada Nurani yang membuatnya menjadi lebih mempesona Karena kutahu, ia tak pernah bohong Karena nurani sempurna Sempurna yang dikaruniakan oleh Sang Maha Sempurna

11 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://nurv3.blogsome.com/2005/07/07/yang-benar-itu/trackback/

  1. Adakah kebenaran dihati?
    Bila hati resah, kebenarankah resah?
    Bila hati gundah, kebenarankah gundah?
    Bila hati kelam, kebenarankah kelam?

    Karena aku berjalan dengan hatiku
    Aku melihat dengan hatiku
    Aku berimaji dengan hatiku
    Tapi ternyata aku salah…

    Hati tak suci
    Hati mudah terkotori
    Hati kadang menafi
    Robbighfirli….

    Comment by Si hitam — July 8, 2005 @ 4:13 am

  2. Adakah kebenaran dihati?
    Bila hati gundah, kebenarankah gundah?
    Bila hati resah, kebenarankah resah?
    Bila hati kelam, kebenarankah kelam?

    Karena kuberjalan dengan hati…
    melihat dengan hati
    berimaji dengan hati
    Tapi ternyata ku salah

    Ku pun mencari yang haqqi
    Tapi mungkin bukan dihati
    Ku yakin satu hal pasti
    Al-Haq pada dijalan illahi

    Comment by si hitam — July 8, 2005 @ 4:21 am

  3. Adakah kebenaran dihati?
    Bila hati gundah, kebenarankah gundah?
    Bila hati resah, kebenarankah resah?
    Bila hati kelam, kebenarankah kelam?

    Karena kuberjalan dengan hati…
    melihat dengan hati
    berimaji dengan hati
    Tapi ternyata ku salah

    Ku pun mencari yang haqqi
    Tapi mungkin bukan dihati
    Ku yakin satu hal pasti
    Al-Haq pada dijalan illahi

    Comment by si_hitam — July 8, 2005 @ 4:22 am

  4. Adakah kebenaran dihati?
    Bila hati gundah, kebenarankah gundah?
    Bila hati resah, kebenarankah resah?
    Bila hati kelam, kebenarankah kelam?

    Karena kuberjalan dengan hati…
    melihat dengan hati
    berimaji dengan hati
    Tapi ternyata ku salah

    Ku pun mencari yang haqqi
    Tapi mungkin bukan dihati
    Ku yakin satu hal pasti
    Al-Haq pada dijalan illahi

    Comment by si_hitam — July 8, 2005 @ 4:26 am

  5. Adakah kebenaran dihati?
    Bila hati gundah, kebenarankah gundah?
    Bila hati resah, kebenarankah resah?
    Bila hati kelam, kebenarankah kelam?

    Karena kuberjalan dengan hati…
    melihat dengan hati
    berimaji dengan hati
    Tapi ternyata ku salah

    Ku pun mencari yang haqqi
    Tapi mungkin bukan dihati
    Ku yakin satu hal pasti
    Al-Haq pada dijalan illahi

    Comment by aswad — July 8, 2005 @ 4:31 am

  6. Memang kebenaran itu lawan dari kesalahan…
    Namun kebenaran bukanlah untuk dibingungkan…..
    Apalagi resah di setiap langkah..
    Bukankah celaka menapaki hidup tanpa arah..?

    Tak salah, kebenaran itu membuncahkan kerinduan yang terpatri dalam setiap hamparan harapan..
    Ia perlu diusahakan bahkan harus selalu ditata agar tumbuh subur dalam setiap pilihan bijak hidup kita..
    Sebab, itulah kebenaran…
    Yang setiap orang meng-idamkan..

    Tak usah membingungkan teorema-teorema kebenaran..
    Jangan pula terjebak dengan konsepsi kebenaran yang relatif..
    Bermula dari pemikiran, nurani, hati atau persepsi..??
    Mana yang benar..??

    Yang jelas, kebenaran bagi kita adalah kebaikan…
    Dan pastilah kebaikan bagi kita adalah keridhoan Tuhan, Allah Swt..
    Itulah konsekuensi atas balutan iman yang menjadi pedoman dalam menapaki hidup…

    Mari berupaya agar selalu berada dalam jalur ridho-Nya…
    Sebab, HIDUP hanya sementara yang setelah itu MATI…

    Comment by AL-KIFAH — July 8, 2005 @ 1:09 pm

  7. Memang kebenaran itu lawan dari kesalahan…
    Namun kebenaran bukanlah untuk dibingungkan…..
    Apalagi resah di setiap langkah..
    Bukankah celaka menapaki hidup tanpa arah..?

    Tak salah, kebenaran itu membuncahkan kerinduan yang terpatri dalam setiap hamparan harapan..
    Ia perlu diusahakan bahkan harus selalu ditata agar tumbuh subur dalam setiap pilihan bijak hidup kita..
    Sebab, itulah kebenaran…
    Yang setiap orang meng-idamkan..

    Tak usah membingungkan teorema-teorema kebenaran..
    Jangan pula terjebak dengan konsepsi kebenaran yang relatif..
    Bermula dari pemikiran, nurani, hati atau persepsi..??
    Mana yang benar..??

    Yang jelas, kebenaran bagi kita adalah kebaikan…
    Dan pastilah kebaikan bagi kita adalah keridhoan Tuhan, Allah Swt..
    Itulah konsekuensi atas balutan iman yang menjadi pedoman dalam menapaki hidup…

    Mari berupaya agar selalu berada dalam jalur ridho-Nya…
    Sebab, HIDUP hanya sementara yang setelah itu MATI…

    Comment by AL-KIFAH — July 8, 2005 @ 1:10 pm

  8. kebenaran itu tidak ada, yang ada hanyalah klaim kebenaran. sebagaimana tatasurya yang mengelilingi matahari, apakah itu juga merupakan kebenaran itu sendiri? kita tidak pernah melihatnya diluar tata surya untuk membuktikannya tetapi kita mengakui bahwa hal itu benar adanya. kenapa? ya karena klaim kebenaran itu. karena tidak ada teori yang lebih sahih yang dapat menggantikan klaim ini. dulu, ketika seorang ilmuwan membuat pernyataan bahwa bumilah yang menjadi pusat, semua mengakuinya.. yang kemudian dibantah secara ilmiyah bahwa bumi bukan pusat, melainkan mataharilah yang merupakan pusat tata surya. hehehe.. komennya asli ngelantur :D contekan lagi dari rubrik dibalik buku koran nasional :p

    Comment by Imponk — July 11, 2005 @ 11:55 am

  9. Umat Islam, hanya menjadikan syariat-Nya sebagai pedoman, petunjuk dan standard kebenaran. Keyakinan ini merupakan konsekuensi konkrit atas tersemainya balutan keimanan dan aqidah yang mantap di hati mereka. Paradigma inilah yang membedakan antara Islam dengan yang lain.

    Saya sering mendengar sebagaimana ‘teori’ yang disampaikan mas Imponk di atas. Teori ini acap kali diadopsi oleh mereka yang menganut konsepsi relativitas kebenaran. Bagi mereka kebenaran itu tidak ada. Yang ada hanyalah klaim kebenaran. Dengan kata lain, mereka beranggapan bahwa tak ada kebenaran ‘mutlak’.

    Berkaitan dengan dinafikannya kebenaran mutlak, saya tidak berkesefahaman dengan pendapat ini. Contoh-contoh yang diusung sebagaimana gerakan relatif (seperti contoh gerakan relatif materi jagad raya) tidaklah relevan dengan menganologikannya dengan konsep kebenaran. Sebab, kebenaran tetaplah kebenaran yang dapat dibuktikan. Kita boleh percaya pada suatu klaim kebenaran dengan catatan bahwa standardisasi dalam menjustisifikasi kebenaran itu mestilah suatu standard yang sejak awal sudah diterima keabsahannya. Sehingga dari pedoman itu ketika sesuatu dikatakannya buruk, maka secara otomatis kita akan mengatakan itu adalah buruk. Begitupula mana kala pedoman itu mengatakan sesuatu itu benar, maka pasti kita akan mengatakan pula bahwa sesuatu itu adalah kebenaran.

    Jadi, menurut saya, kebenaran tetaplah kebenaran (bukan sekedar klaim) yang kesemuanya itu bermuara pada sebuah pedoman. Dan dasar dari seluruh pedoman itu adalah aqidah yang memancarkan pemahaman.

    Begitu pula dalam berperilaku. Perilaku manusia sesungguhnya didasarkan atas pemahamannya tentang kehidupan. Ia katakan sesuatu itu baik, karena sebelumnya ia telah memiliki informasi tentang kriteria kebaikan dan apa yang dikatakan dengan keburukan.

    Yang jelas, kebenaran bagi kita adalah sesuatu yang selaras dengan keridhoan Tuhan.. Sedangkan keburukan bagi kita adalah apa-apa yang menjadi kemurkaan Tuhan, Allah swt..

    Itulah konsekuensi atas balutan iman yang menjadi pedoman dalam menapaki hidup…

    Mari berupaya agar selalu berada dalam jalur ridho-Nya…
    Sebab, HIDUP hanya sementara yang setelah itu adalah MATI…

    Wallahua’lam… :-)

    Comment by Frenky Suseno Manik — July 12, 2005 @ 4:52 am

  10. 9# saya tidak mengartikan kebenaran di sini sebagai alhaqq. kebenaran dalam artian di atas merupakan lensa di mana kita melihat. lagian tidak ada pembahasan tentang itu.

    Comment by Imponk — July 12, 2005 @ 7:13 am

  11. he he he bisa untuk tugas analisis kebenaran nich, thanks

    Comment by ela — January 27, 2007 @ 9:47 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa