Cerita dari Ummu Syifa

July 7, 2005

Yang Benar Itu…

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 8:10 am

Ini bukan nasihat, bukan pula petuah. Ini adalah sebuah kebingungan Kebingungan akan sebuah kebenaran

Aku melangkah dan aku salah, aku menjamah dan aku resah aku berjalan tapi tak tentu arah

Sebuah kebenaran, aku rindu Sebuah paradigma yang berbeda Lain dari paradigma yang selama ini terpatri di memoriku Orang bilang itu salah, aku tak tahu Saat ada yang merasa dirugikan, baru aku mencoba untuk menyadari kekeliruanku

Kebenaran menurut versiku, boleh jadi beda Kebenaran itu ada di hati Nurani yang membentuknya menjadi ada Nurani yang membuatnya menjadi lebih mempesona Karena kutahu, ia tak pernah bohong Karena nurani sempurna Sempurna yang dikaruniakan oleh Sang Maha Sempurna

Lakukan Yang Terbaik

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 5:35 am

Saya pernah membuat sebuah kata-kata, tak terlalu indah, tapi cukup membuat saya merenungkannya. Kata-kata itu seperti ini “Saya memutuskan untuk melangkah ke kiri. Ketika saya tahu di sana tak ada keberuntungan maka saya tak akan pernah bisa kembali untuk memilih jalan ke kanan.”

Ya, mungkin seringkali saya ataupun sebagian orang mengalami apa yang dinamakan penyesalan. Bagaimanapun kata “menyesal” sangat tak enak didengar. Banyak yang bilang, menyesalnya seseorang karena ia salah langkah. Mungkin, tapi sesungguhnya kalau seseorang benar-benar memikirkan apa yang akan dilakukannya, niscaya ia tak akan terjebak, salah langkah, atau pun semacamnya yang akan berbuntut pada penyesalan.

Beberapa waktu lalu saya mendengar nasihat yang sangat bagus dari orang terkasih saya. Beliau menuturkan bahwa di dunia ini orang harus benar-benar cermat dalam menentukan langkah. Langkah itu bisa macam-macam penafsirannya. Seperti yang saya dengar dari beliau, ucapan pun tak ubahnya seperti langkah. Setiap seseorang akan mengucapkan sesuatu, hendaknya ia melihat konsekuensi atas ucapan yang akan keluar dari mulutnya. Jangan sampai kata-kata yang keluar itu menyinggung bahkan menyakiti telinga orang yang mendengarnya.

Tentang langkah bijak, beliau mengambil contoh ketika seseorang melangkah ke sebuah jalan. Di depan ada sebuah jalan yang membentang mulus. Ia tak boleh lantas menyeberang ke sana, tanpa berpikir lebih jauh. Ia harusnya memikirkan lagi, nanti jika dia sudah melangkah, apakah jalan yang dilaluinya benar-benar semulus apa yang dilihatnya sejauh 10 atau 15 meter ke depan. Tidak menutup kemungkinan bahwa jalan tersebut tak akan selalu mulus seperti jangkauan matanya yang hanya beberapa meter saja. Bisa jadi ketika sudah 100 meter ada banyak duri atau bahkan jalan itu tak bisa dilalui karena longsor, mungkin saja.

Seorang yang hidup di dunia seharusnya mampu untuk selalu melihat lebih jauh. Tindakan yang dilakukannya saat ini boleh jadi mempunyai dampak yang sangat berarti bagi kehidupannya di masa yang akan datang. Jadi, sikap kehati-hatian itu perlu. Muhasabah, selalu melakukan introspeksi diri dan mem-flash back apa-apa yang telah dilakukannya sangat bagus untuk proses pembelajaran, agar jangan sampai diri ini terjebak dalam lobang yang sama. Sungguh sangat merugi, bila hari-hari yang dilalui seseorang hanya begitu saja. Pepatah yang sangat terkenal dan sudah banyak dihafal alangkah baiknya bila tidak hanya jadi koleksi hafalan semata. “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.” Mengapa? Karena seseorang yang hari ini sama dengan hari kemarin sesungguhnya termasuk orang yang merugi. Dan yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, sesungguhnya termasuk orang yang celaka.

Manusia bisa bertidak apa saja, melakukan apa pun sekehendak hatinya. Namun tak akan merugi dan niscaya akan lebih berarti bila apa yang kita lakukan adalah yang terbaik yang kita bisa lakukan. :)

Special thanks to bapak. Love u so much.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa