Cerita dari Ummu Syifa

April 11, 2005

Mbasakke

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 9:59 am

Sudah menjadi adat orang Jawa, seorang adik memanggil kakaknya dengan tidak njangkar. Kalau kakaknya laki-laki, sang adik memanggil dengan mas. Kalau kakaknya perempuan, ya dengan mbak. Mungkin hal ini tidak akan ditemui di Barat. Saya sering menyaksikan film Barat, sang adik memanggil kakaknya dengan njangkar, alias langsung menyebut namanya tanpa menggunakan mas atau mbak. Sangat tidak sopan memang, namun saya kira di luar negeri tidak ada istilah njangkar.

Menurut saya, agar adik-adik kecil kita tidak terlanjur memanggil kakaknya tanpa “embel-embel” mas atau mbak, peran orang tua menjadi kunci utama. Ada suatu kasus. Kemarin saya mendengar tetangga saya berteriak-teriak. “Bi, pite dilebokke..!”* Kata sang ayah kepada anaknya, namanya Wibi.
“Bi, pite dilebokke..!” Sahut ibunya beberapa waktu kemudian. “Bi, pite dilebokke…!” Ups… saya kaget. Yang barusan berteriak setelah ibunya adalah adik kecilnya. Kira-kira usianya empat tahun.

Waduh, gawat. Kalau ngga’ diperhatikan bisa jadi kebiasaan. Biasanya orang tua sering mbasakke kakaknya untuk sang adik. Mbasakke itu kalau diIndonesiakan apa ya? Membahasakan? Bener ngga’ sih? Yang jelas begini, alangkah lebih baik ketika orang tua menyuruh sang kakak melakukan sesuatu, jangan lupa memberikan “embel-embel” mas atau mbak. Misalnya dalam kasus tetangga saya di atas, baiknya ayah ibunya bilang: “Mas Wibi, pite dilebokke…!” Nha, kalau begini kan sang adik juga akan mengikuti ayah ibunya dengan bilang “Mas Wibi, pite dilebokke..!” Ya, meskipun sebenarnya tak ada dalam kamus, seorang adik memerintah kakaknya. Namun setidaknya adiknya tidak njangkar ketika memanggil kakaknya.

(*Dalam bahasa Indonesia: “Bi, sepedanya dimasukkan..!”)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa