Nostalgia
Kulangkahkan kakiku menuju suatu tempat yang memang tak asing bagiku. Setidaknya untuk sekarang, karena memang belum begitu lama aku meninggalkan tempat ini untuk menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Ya, tempat itu adalah sebuah universitas. Dan saat itu aku sedang berada di SMUku. Tempat yang dulu setiap hari selalu mengajariku hal-hal baru. Tempat yang penuh dengan nuansa ibadah. Saya bangga bisa menjadi bagian dari sekolah ini. Sekolah memang sudah banyak berubah. lantai yang kupijak ini, dulu tidak sekinclong ini. Sekarang, untuk memijakkan kaki pun harus hati-hati, takut terpeleset.
Kupandang sekeliling, piala-piala itu masih ada di sini, di lobi. Entah berapa banyak prestasi yang terukir oleh para siswa, atas nama sekolah. Saya sendiri iri dengan mereka yang bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk sekolah. Saya tak pernah memberikan sebuah piala untuk sekolah. Paling banter mungkin ketika piala itu kami berikan ketika menang lomba baris-berbaris. Ya, kami. Bukan saya
Lurus ke depan, belok ke kanan. Kulihat bapak ibu guru yang kebetulan sedang tidak mengajar, memperhatikan kami, saya dan teman saya. Saya melemparkan senyuman, kemudian menjabat tangan seorang guru BP yang cantik. Sembari berbincang-bincang sejenak, sekedar basa-basi. Usia ibu itu mungkin lebih tua dari ibuku, tapi wajahnya masih terlihat muda. Bapak guru yang di sebelah iu itu pun memberikan senyumnya. Guru-guru di sini ramah-ramah. Baru kurasa sekarang, saat ini, ketika saya tak lagi menjadi siswa di sini. Beberapa waktu kemudian, saya telah berada di perpustakaan. Ada sedikit perubahan. "Pak, alumni gratis kan?" tanya saya pada penjaga perpustakaan, Pak Hasan. "Iya, gratis, tapi ngga bisa internet." Pak Hasan tertawa. Aku manyun. Wah, sayang, komputernya nambah, tapi ngga konek internet lagi. Saya teringat sebuah peristiwa, lucu. Dulu, sewaktu istirahat, saya dan teman-teman di sini. Bukan untuk membaca buku, tapi chatting!Satu komputer untuk berlima (ck ck ck). Lucu, geli, karena kami sempat ngerjain orang yang kebetulan masuk channel Jogjakarta di MIRC. Kami semua ketawa, entahlah apa yang membuat kami ngakak waktu itu, saya sudah lupa. Tapi tiba-tiba…. Ups, seorang guru menegur kami, "Hm..chatting! Mbok lvelnya ditingkatkan, ikut milis…" suara Pak Asrori, guru kimia kami. Kami semua salting. Mungkin saat itu dalam hati, kami semua mengharap agar Pak Rori segera meninggalkan kami. Hi hi… jahat ya?
Puas memandang sekeliling perpustakaan, saya dan teman saya keluar. Kami masih punya "urusan" dengan salah satu guru kami. Kulihat jam, belum waktunya istirahat juga. Kami berkeliling lagi. Kali ini kaki kami memaksa untuk masuk ke tempat yang paling digemari siswa. Apalagi kalau bukan kantin. Temanku memesan es teh. Saya tidak, karena saya suka bawa air mineral sendiri. Belajar irit.. Akhirnya bel istirahat berbunyi. Saya segera mengajak teman saya untuk ke ruang guru kembali, mencari sesosok guru yang ramah tapi suka "menggoda". He he… Yang jelas, bapak yang satu itu suka guyon. Suka "menjodohkan" siswa-siswinya! Tapi jangan salah, kalau marah ngeri juga. * Setelah bicara panjang lebar, akhirnya kami pamit. Sempat kulihat segaris senyum di bibir bapak dan ibu guru yang kami temui, entah bangga atau sekedar senang karena mantan anak didiknya tidak lupa pada mereka. Saya bahagia pernah memiliki mereka, sebagai guru dan orang tua kedua saya. Dalam hati saya berdo’a, semoga Alloh membalas semua jasa-jasanya. Saya yakin, di mata Alloh, mereka semua lebih dari sekedar pahlawan tanpa tanda saja. Saya yakin, pahala kan terus mengalir untuk bapak ibu guruku tercinta.
