Cerita dari Ummu Syifa

March 30, 2005

Nostalgia

Filed under: Kisah dan Hikmah - nurv3 @ 1:59 pm

Kulangkahkan kakiku menuju suatu tempat yang memang tak asing bagiku. Setidaknya untuk sekarang, karena memang belum begitu lama aku meninggalkan tempat ini untuk menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Ya, tempat itu adalah sebuah universitas. Dan saat itu aku sedang berada di SMUku. Tempat yang dulu setiap hari selalu mengajariku hal-hal baru. Tempat yang penuh dengan nuansa ibadah. Saya bangga bisa menjadi bagian dari sekolah ini. Sekolah memang sudah banyak berubah. lantai yang kupijak ini, dulu tidak sekinclong ini. Sekarang, untuk memijakkan kaki pun harus hati-hati, takut terpeleset. :D Kupandang sekeliling, piala-piala itu masih ada di sini, di lobi. Entah berapa banyak prestasi yang terukir oleh para siswa, atas nama sekolah. Saya sendiri iri dengan mereka yang bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk sekolah. Saya tak pernah memberikan sebuah piala untuk sekolah. Paling banter mungkin ketika piala itu kami berikan ketika menang lomba baris-berbaris. Ya, kami. Bukan saya :( Lurus ke depan, belok ke kanan. Kulihat bapak ibu guru yang kebetulan sedang tidak mengajar, memperhatikan kami, saya dan teman saya. Saya melemparkan senyuman, kemudian menjabat tangan seorang guru BP yang cantik. Sembari berbincang-bincang sejenak, sekedar basa-basi. Usia ibu itu mungkin lebih tua dari ibuku, tapi wajahnya masih terlihat muda. Bapak guru yang di sebelah iu itu pun memberikan senyumnya. Guru-guru di sini ramah-ramah. Baru kurasa sekarang, saat ini, ketika saya tak lagi menjadi siswa di sini. Beberapa waktu kemudian, saya telah berada di perpustakaan. Ada sedikit perubahan. "Pak, alumni gratis kan?" tanya saya pada penjaga perpustakaan, Pak Hasan. "Iya, gratis, tapi ngga bisa internet." Pak Hasan tertawa. Aku manyun. Wah, sayang, komputernya nambah, tapi ngga konek internet lagi. Saya teringat sebuah peristiwa, lucu. Dulu, sewaktu istirahat, saya dan teman-teman di sini. Bukan untuk membaca buku, tapi chatting!Satu komputer untuk berlima (ck ck ck). Lucu, geli, karena kami sempat ngerjain orang yang kebetulan masuk channel Jogjakarta di MIRC. Kami semua ketawa, entahlah apa yang membuat kami ngakak waktu itu, saya sudah lupa. Tapi tiba-tiba…. Ups, seorang guru menegur kami, "Hm..chatting! Mbok lvelnya ditingkatkan, ikut milis…" suara Pak Asrori, guru kimia kami. Kami semua salting. Mungkin saat itu dalam hati, kami semua mengharap agar Pak Rori segera meninggalkan kami. Hi hi… jahat ya? :P Puas memandang sekeliling perpustakaan, saya dan teman saya keluar. Kami masih punya "urusan" dengan salah satu guru kami. Kulihat jam, belum waktunya istirahat juga. Kami berkeliling lagi. Kali ini kaki kami memaksa untuk masuk ke tempat yang paling digemari siswa. Apalagi kalau bukan kantin. Temanku memesan es teh. Saya tidak, karena saya suka bawa air mineral sendiri. Belajar irit.. Akhirnya bel istirahat berbunyi. Saya segera mengajak teman saya untuk ke ruang guru kembali, mencari sesosok guru yang ramah tapi suka "menggoda". He he… Yang jelas, bapak yang satu itu suka guyon. Suka "menjodohkan" siswa-siswinya! Tapi jangan salah, kalau marah ngeri juga. * Setelah bicara panjang lebar, akhirnya kami pamit. Sempat kulihat segaris senyum di bibir bapak dan ibu guru yang kami temui, entah bangga atau sekedar senang karena mantan anak didiknya tidak lupa pada mereka. Saya bahagia pernah memiliki mereka, sebagai guru dan orang tua kedua saya. Dalam hati saya berdo’a, semoga Alloh membalas semua jasa-jasanya. Saya yakin, di mata Alloh, mereka semua lebih dari sekedar pahlawan tanpa tanda saja. Saya yakin, pahala kan terus mengalir untuk bapak ibu guruku tercinta.

March 27, 2005

Dan Saya pun Benar Benar Pindah

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 12:07 pm

Saya ingin bercerita sedikit tentang “petualangan” saya di dunia cyber sampai akhirnya memutskan untuk “membeli” rumah baru di sini. Dulu, saya tidak pernah tahu apa itu blogger. Saya tahu karena ada salah satu teman saya yang “mempromosikan” blognya. Saya kemudian iseng mengunjungi rumah mayanya. Hm…. teman saya suka sekali menulis puisi. Saya juga ingin memiliki rumah maya seperti dia.

Saya kemudian mencoba untuk menirunya. Saya mendaftar di blogger, tapi saya masih bingung, kenapa di blog teman saya ada kotak untuk menulis pesan, sedangkan di rumah saya, kosong tanpa “perabotan”.Saya tanya dia tentang itu, dan entahlah apa jawabannya waktu itu. Saya sudah lupa. Pada intinya, saya tetap tak bisa memiliki kotak ajaib itu:-(

Kemudian, kejenuhan memaksa saya untuk meninggalkan rumah maya itu. Ya, meninggalkannya dan tak pernah mengunjunginya lagi. Sampai suatu ketika…

Saya mendapat tugas untuk menulis artikel tentang sholat Jum’at. Dulu, saya pernah melihat di rumah saya ada sebuah buku tentang sholat Jum’at. Tapi giliran saya butuh, saya malah tidak menemukannya lagi. Saya malas mencarinya. Lalu saya iseng googling, mengetikkan sebuah keyword, “sholat Jum’at”. Ya, saya tahu kalau di internet informasi yang saya dapatkan bisa lebih banyak. Saya “disuguhi” banyak sekali link tentang sholat Jum’at. Saya iseng ngeklik satu link. Dan saya tersesat di sebuah halaman seseorang. Saya membaca artikel2 yang ada, dan saya terus terang sedikit kecewa, karena isinya cuma cerita. Ya, cerita seorang pria tentang sholat Jum’at.

Namun saya tidak lantas mengclose halaman itu. Saya tertarik untuk membaca kisah itu sampai selesai. Hm… menarik juga. Waktu itu saya sudah tahu, bahwa halaman seperti ini adalah sebuah blog. (Saya kan pernah punya dulu…)

Nah, peristiwa “tersesat” itulah yang mengantarkan saya untuk kembali “membeli” rumah di blogger. Saya ingin menuliskan cerita-cerita harian saya, sama seperti cerita seorang pria dalam blog yang saya kunjungi itu. Dan saya pun terkesan ketika melihat kotak pesan yang ada di sebelah kanan halaman (belakangan saya tahu, namanya sidebar) penuh dengan sapaan yang akrab sekali. Saya kepingin juga. Kemudian, tekad yang kuat (ciee) membuatku ingin lebih banyak tahu tentang HTML. Saya beruntung punya seorang kakak yang lebih tahu tentang HTML ketimbang saya. Saya minta diajarin, dan sedikit-sedikit saya bisa bahasa HTML. Ternyata ngga sulit-sulit amat:-)

Singkat cerita, saya sudah bisa sedikit-sedikit menulis cerita harian saya di blog ini. Dan kebetulan juga, saya beruntung masuk fakultas ini, karena saya minimal seminggu sekali bisa ngeblog. Lumayan, fasilitas gratis, sayang kalau tidak dimanfaatkan:-P

Ngeblog, ngeblog dan ngeblog. Mungkin saking seringnya saya masuk di sini (maklum, saat itu lagi seneng2nya ngutak-atik blog) mbak yang jaga (operator) mungkin sedikit sebal, karena lagi2 saya yang masuk. Lagi2 saya yang menyodorkan KTM untuk “ditukar” dengan sebuah kompie. Ya, saya lagi mbak… Hi hi…

Sekarang saya senang. Saya punya teman banyak, para blogger di seluruh penjuru nusantara (ciee). Saya senang ketika ada yang ngasih komen pada tulisan saya. Saya bahagia ketika ada teman yang menyapa di shout box. Sekedar say “Pa kabar?” Ya, saya senang sekali. Sekarang, saya memutuskan untuk di sini. Ngga’, bukan karena saya sudah ngga’ suka dengan blogger, tapi terkadang ketidaksukaan saya atas satu kata: menunggu, membuat saya ingin mencoba membeli rumah baru. Kali ini bukan rumah buatan blogger. Ya, saya memilih blogsome. Setelah lama menimbang-nimbang akhirnya saya memutuskan untuk pindah. Dan sekarang,seperti yang kalian saksikan, saya telah menempati rumah baru saya, Rumah Ke Dua saya. Dan saya pun benar-benar pindah. :)

March 26, 2005

Wawancara

Filed under: Lainnya - nurv3 @ 1:10 pm

Malam. Ketika sedang makan… Suara adzan yang kudengar dari masjid dekat rumah berbeda, lain dari suara muadzin yang biasanya. Kali ini indah, tapi bukan berarti yang biasanya tidak. Pokoknya kali ini istimewa. Lagunya bagus sekali, seperti adzan-adzan yang biasa dikumandangkan di stasiun tv. Saya tidak tahu lagu apa, yang jelas saya menikmati adzan ini.

Tentang lagu, saya pernah tahu kalau di qiro’ah itu ada banyak variasi lagu, tidak tahu juga, nama-namanya. Dulu waktu SMP saya pernah ikut ekstra kurikuler seni baca Al-Qur’an. Tapi hanya sebentar, jadi tidak tahu banyak tentang itu. Bahkan boleh dibilang, sekarang hanya hafal naik turunnya saja, itu pun sekarang tidak pernah dipraktekkan lagi. Saya senang mendengar lantunan ayat-ayat suci bila diqiro’ahkan. Dulu, bapak sempat menawari saya untuk ikut qiro’ah di Syuhada’, tapi saya menolak. Saya pikir, untuk wanita sepertinya tidak boleh terlalu ‘membuka’ suara. Ya, itu sih pendapat saya. Tapi saya juga senang mendengar akhwat yang bisa qiro’ah. Ketika mendengarnya serasa merinding.


Setengah sepuluh. Saya sedang membuat tugas reportase dari training kemarin.

Beberapa waktu lalu, saya menjumpai Novita Estiti, penulis novel kontroversial, Subject: Re. Bukan, bukan ketemu langsung, hanya wawancara via Yahoo Messenger saja kok. Dulu, saya pernah mendengar suara mbak Novita saat diundang ke radio Geronimo. Saya mendengar tentang penolakan mbak Novi atas pelabelan chick lit pada sampul depan Subject: Re. Menurutnya, novelnya itu bukan chick lit. Novelnya itu bukanlah novel ringan karena ia bercerita banyak soal kematian, bunuh diri, ketidakbahagiaan, dan sisi-sisi buruk kehidupan. Itu yang diungkapkannya kepada Sriti.com.

Kalau sewaktu wawancara dengan saya, ia berkata bahwa novelnya itu isinya adalah pertanyaan-pertanyaan tentang hidup: hidup itu buat apa, bosan hidup, tuhan itu apa, dll. Begitu katanya. Saya sendiri tidak tahu pasti karena terus terang saya juga tak pernah membacanya, bahkan sekedar melihat novel itu. (He he..). Mungkin itu juga yang membuat mbake bilang: “Menurut aku, sblm wwcr orang atau apapun, sebaiknya kita melakukan riset kecil dulu sbg latar belakang paling tdk agar kita tau apa yg mau ditanyakan.” (He he, iya juga :P ) Lalu, beliau juga bilang gini, “Menurut aku, wwcr kamu kurang fokus, krn kmu sering menanyakan hal2 yg sdh dijawab sblmnya.” (Hm…)

Tentang novel itu, ia bercerita bahwa idenya diambil dari arsip-arsip emailnya. “Idenya dari email-emailku sendiri. Aku memang biasa mengarsip semua tulisanku. Karena aku males/nggak bisa menulis sesuatu yg panjang berkesinambungan, aku bikinnya pendek2-pendek aja dalam bentuk email.”

Mbak Novi menurutku, orangnya “santai”, dalam arti memang tidak ribet soal tulisan. “Sebenarnya aku sendiri tdk terlalu peduli dgn semua aturan itu, aku hanya menulis apa yang ada di kepalaku dan ternyata itu dibaca org. jadi kalo ditanya bgmn caranya mejd penulis yg baik, aku tdk tahu jawabannya.”

Saya sedikit kecewa, karena biasanya ketika seseorang membuat wawancara, sering pada akhir wawancara itu, narasumber ditanya tentang motto hidup, tapi bagi mbak Novi, motto itu ngga penting. “Aku ga punya moto hidup krn tdk merasa perlu punya.” katanya.

Ya sudah, kalau ngga ada motto hidup,ya pesan2 saja…. “Aku tdk suka berpesan krn aku bukan siapa2.”

Ya, kalo bukan pesan, mungkin kata2 khas seorang novita… “Kalo mau nulis, tulis aja.”

Wanna say something? Silakan… :)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph and modified by Ummu Syifa